Mungkin ini pertanyaan keseribu sekian tentang “misteri” di balik mengapa huruf i pada logo iB (ai-Bi) huruf kecil? Kenapa bukan dua-duanya huruf besar..jadi IB? Atau I-nya yang besar..jadi ditulis Ib ?
Alkisah di bulan ketiga dua tahun silam, bergulirlah gagasan untuk membuat sebuah logo yang akan menjadi ciri penanda khas bank syariah di Indonesia. Sebuah logo yg akan menjadi identitas pemersatu dari bank-bank syariah yang semakin banyak bermunculan, termasuk juga BPRS yang tumbuh bermekaran. Sehingga tercipta kesatuan citra bank syariah sebagai sebuah industri yang besar, solid dan mapan. Ibaratnya toko di ujung pulau, meski jauh terpencil tapi kalau ada logo “Visa” atau “Master Card”nya…maka toko itu tidak lagi dipandang sbg toko pinggiran…karena terhubung dgn brand global, shg orang jadi yakin untuk bertransaksi. Bank syariah di Indonesia memerlukan logo yang kredibel seperti itu…
Pada bulan kelima di tahun yg sama, proses perumusan logo industri perbankan syariah dimulai. Dan karena logo ini akan menjadi logo dari sebuah industri keuangan yang serius –sangat sangat serius-, maka amat tidak pantas untuk sekedar mencoret-coret sendiri disainnya di atas kertas..seperti mau bikin logo perkumpulan karang taruna atau vokal group sekolahan. Semuanya harus memiliki makna, bahkan untuk setiap tarikan garis, bentuk, warna dan pemilihan huruf ! Logo harus dilahirkan dari rahim perenungan yang mendalam tentang filosofi dasar dan virtues dari sistem perbankan syariah (islamic bank). Setiap pilihan bentuk dan tarikan garisnya adalah perwujudan lahir dari idea-idea bathiniah.
Adalah Irvan A. Noe’man, seorang pakar dan tokoh disain grafis terkemuka negeri ini yang kemudian membantu mengendapkan idea batiniah itu, yang dikandung oleh sistem bank syariah..dan kemudian mewujudkannya ke dalam garis, bentuk dan warna. Sebagai salah satu tokoh pendiri Indonesia Design Professionals Association (ADGI), dan juga putera dari A. Noe’man sang arsitek Masjid Salman ITB, Irvan tak diragukan lagi memiliki kepakaran disain grafis sekaligus kepekaan religius…dua kualitas yang dibutuhkan untuk melahirkan logo sekaliber industri islamic banking di Indonesia ini.
Tanggal 2 Juli 2007, logo iB dicanangkan sebagai logo resmi bagi industri perbankan syariah di Indonesia. Bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Bank Indonesia. Dan untuk keseratus sekian kalinya, pertanyaan dari yang hadir adalah..”kenapa huruf i-nya kecil yaa?..” Apakah cuma untuk pemanis-manis disain dan komposisi?
Lebih dalam dari itu! Penjelasan Irvan A. Noe’man terhadap “misteri” itu sangat memukau dan mencerahkan: “iB adalah islamic banking….dan huruf i kecil mensiratkan bahwa islam harus tampil secara humble…rendah hati..”.
Islam dalam islamic banking, ditampilkan secara lembut, halus dan rendah hati. Ia menyejukkan, bukan menakut-nakuti. Ia mendamaikan, bukan membuat gelisah. Ia halus dan lembut, bukan bengok-bengok (teriak-teriak, bhs Jawa) memekakkan telinga. Ia rendah hati, bukan membusungkan kesombongan. Ia bisa menghargai, bukan memurkai atau memaki-maki. Itulah mengapa i-nya iB pake huruf kecil….
Tulisan ini diposting juga di: iB Blogger Competition.
..
Sabtu
Selasa
Bank Syariah...dipiiliih...diipiliiih.....
Dagangan apa yang sekarang ini paling laku dijual? Ekonomi syariah dan perbankan syariah! Apakah karena momennya memang pas, dimana banyak orang sedang mencari-cari sistem perbankan alternatif yang lebih tahan banting dalam hempasan badai krisis keuangan global? Atau semata karena rasa emosional/sentimen keagamaan dari masyarakat negeri ini, saat ini sedang disentil dan dielus-elus oleh orang-orang yang pingin memperoleh simpati. Entah demi tujuan-tujuan ekonomi, uang…ataupun untuk tujuan kampanye politik, kekuasaan.
Tapi sebenernya apa sih yang mereka jual? Apakah cuma sekedar jualan jargon dan simbol-simbol hanya untuk membeli hati? Sebenernya apa sih kelebihan dari bank syariah? Sehingga ia pantas dijadikan sebuah “isu strategis” yang harus dibicarakan di antara isu-isu strategis lainnya. Jangan-jangan, yang teriak-teriak jualan bank syariah di berbagai forum dan media itu malah ga ngeh tentang…apa sih bagusnya barang yang ia jual?....
Pertama: Dengan sistem bagi hasilnya, bank syariah sejatinya mengangkat kembali keluhuran kultur anak negeri ini. Re-inventing the heritage. Sistem bagi hasil sudah dikenal di nusantara bahkan sejak pra kedatangan Islam. Istilah maro, mertelu, belah pinang, bakongsi, mencerminkan kultur luhur kebersamaan, welas asih dan keadilan. Semakin banyak masyarakat menggunakan bank syariah, maka nilai-nilai luhur bangsa ini semakin dihidupkan kembali. Lihat tulisan saya sebelumnya: “Bank Syariah Bukan Barang Impor”.
Kedua: Bank syariah merekatkan kembali aktivitas pasar keuangan dengan kegiatan ekonomi riil, sehingga mengobati masalah de-coupling economy. Setiap uang yang dikeluarkan oleh bank syariah harus digunakan untuk membiayai sektor riil produktif. Tidak boleh diputar-putar saja di sektor finansial. Dengan demikian, maka membesarnya pasar keuangan selalu merupakan cermin sempurna dari membesarnya kegiatan produksi di sektor riil. Tidak terjadi ekonomi gelembung (bubble economy) yang sewaktu-waktu bisa pecah menggoncang perekonomian.
Ketiga: Harmonisasi antara kedua pasar tersebut (sektor keuangan dan sektor riil) akan mencegah terjadinya ekses likuiditas, karena likuiditas yang mengalir dalam perekonomian adalah sesuai dengan kebutuhan transaksi yang benar-benar riil. Tidak ada penumpukan likuiditas secara permanen yang hanya berputar-putar di instrumen keuangan, sementara sektor riil lebih membutuhkannya.
Keempat: Bank syariah tidak boleh membiayai bisnis spekulatif, misalnya untuk kegiatan spekulasi valas. Dengan membesarnya share bank syariah dalam perekonomian, maka pergerakan harga benar-benar akan merupakan cermin sempurna dari interaksi supply-demand barang yang benar-benar riil. Dalam lanskap ini tidak diperbolehkan pembiayaan bagi aktivitas-aktivitas spekulatif maupun penumpukan (hoarding), sehingga meningkatkan prediktibilitas pergerakan inflasi.
Ahh..seandainya mereka tahu bagusnya dagangan yang sedang mereka jual ini…mereka pasti akan berteriak-teriak lebih lantang lagi. Bukan hanya supaya pingin dapet suara, tetapi karena bank syariah memang bagus punyya!.. ayoo..dipiliih…dipiliiih !!....:)
..
Tapi sebenernya apa sih yang mereka jual? Apakah cuma sekedar jualan jargon dan simbol-simbol hanya untuk membeli hati? Sebenernya apa sih kelebihan dari bank syariah? Sehingga ia pantas dijadikan sebuah “isu strategis” yang harus dibicarakan di antara isu-isu strategis lainnya. Jangan-jangan, yang teriak-teriak jualan bank syariah di berbagai forum dan media itu malah ga ngeh tentang…apa sih bagusnya barang yang ia jual?....
Pertama: Dengan sistem bagi hasilnya, bank syariah sejatinya mengangkat kembali keluhuran kultur anak negeri ini. Re-inventing the heritage. Sistem bagi hasil sudah dikenal di nusantara bahkan sejak pra kedatangan Islam. Istilah maro, mertelu, belah pinang, bakongsi, mencerminkan kultur luhur kebersamaan, welas asih dan keadilan. Semakin banyak masyarakat menggunakan bank syariah, maka nilai-nilai luhur bangsa ini semakin dihidupkan kembali. Lihat tulisan saya sebelumnya: “Bank Syariah Bukan Barang Impor”.
Kedua: Bank syariah merekatkan kembali aktivitas pasar keuangan dengan kegiatan ekonomi riil, sehingga mengobati masalah de-coupling economy. Setiap uang yang dikeluarkan oleh bank syariah harus digunakan untuk membiayai sektor riil produktif. Tidak boleh diputar-putar saja di sektor finansial. Dengan demikian, maka membesarnya pasar keuangan selalu merupakan cermin sempurna dari membesarnya kegiatan produksi di sektor riil. Tidak terjadi ekonomi gelembung (bubble economy) yang sewaktu-waktu bisa pecah menggoncang perekonomian.
Ketiga: Harmonisasi antara kedua pasar tersebut (sektor keuangan dan sektor riil) akan mencegah terjadinya ekses likuiditas, karena likuiditas yang mengalir dalam perekonomian adalah sesuai dengan kebutuhan transaksi yang benar-benar riil. Tidak ada penumpukan likuiditas secara permanen yang hanya berputar-putar di instrumen keuangan, sementara sektor riil lebih membutuhkannya.
Keempat: Bank syariah tidak boleh membiayai bisnis spekulatif, misalnya untuk kegiatan spekulasi valas. Dengan membesarnya share bank syariah dalam perekonomian, maka pergerakan harga benar-benar akan merupakan cermin sempurna dari interaksi supply-demand barang yang benar-benar riil. Dalam lanskap ini tidak diperbolehkan pembiayaan bagi aktivitas-aktivitas spekulatif maupun penumpukan (hoarding), sehingga meningkatkan prediktibilitas pergerakan inflasi.
Ahh..seandainya mereka tahu bagusnya dagangan yang sedang mereka jual ini…mereka pasti akan berteriak-teriak lebih lantang lagi. Bukan hanya supaya pingin dapet suara, tetapi karena bank syariah memang bagus punyya!.. ayoo..dipiliih…dipiliiih !!....:)
..
Sabtu
Ketika Bule Jatuh Cinta
Mengapa banyak negara asing berpenduduk tidak mayoritas muslim semakin menggebu ikut-ikutan mengembangkan bank syariah? Dimulai dari Inggris dan merambat ke Amerika Serikat, Australia, Singapura, Jepang, Rusia, Hongkong, Korea (sedang serius mempelajari bank syariah dan rajin bikin workshop dengan IFSB)...Koq bisa? Apa sih yang menyebabkan mereka jatuh cinta sama ekonomi syariah dan bank syariah??
Hampir pasti bukan karena alasan-alasan keagamaan. Urusan Hongkong dan Singapura, misalnya, bisa jadi cuma soal ngumpulin duit sebanyak2nya. Urusan negara-negara Barat lain, barangkali lebih sophisticated dan "mature": ethical economics!
Ketika bule Eropa dan Amerika taraf ekonominya sudah mapan, maka meningkatlah kesadarannya beyond urusan sembako dan duit. Sekarang mereka mikir soal-soal yang lebih "soft": bagaimana mengurangi efek global warming? bagaimana mengurangi kerusakan alam lingkungan? bagaimana menciptakan kehidupan sosial yang berkeadilan dan sejahtera? (welfare) Bagaimana manusia bisa hidup secara berkualitas? (freedom, education) bagaimana membangun semangat sosial dalam komunitas-komunitas? ...termasuk di dalamnya bagaimana berbisnis secara lebih etis? bisnis di berbagai sektor: etis dalam berbanking..etis dalam berinvestasi.
Bule sedang jatuh cinta sama Ethical banking dan ethical investment. Mereka rajin berkampanye utk hanya menggunakan bank-bank yang mendukung investasi yang etis yang mendukung kelestarian alam lingkungan. Bank yang ngasih kredit ke bisnis penebangan hutan..nggak laku. Bank yang ketauan ngasih kredit ke pabrik2 peghasil limbah..nggak laku. Bank yang ngasih kredit ke bisnis eksploitasi alam dan merusak alam..nggak laku.
Bule sedang jatuh cinta sama bank yang peduli dengan small enterpreneurs alias pengusaha kecil alias UMKM. Grameen bank-nya Muhammad Yunus di Bangladesh dipuja-puja dan dikasih hadiah nobel. Bule terpesona dan jatuh cinta sama yang kayak beginian sekarang..
Bule sedang jatuh cinta sama bank syariah. Betapa tidak? Coba lihat apa yang ditawarkan oleh sistem bank syariah:
"Kebersamaan dan kemitraan adalah nilai-nilai yang dikedepankan oleh sistem perbankan syariah, yang menjadi prinsip dan semangat dari setiap produk bank syariah yang ditawarkan kepada masyarakat. Sistem perbankan syariah dalam menjalankan aktivitas bisnisnya tetap menjaga visi kemanusiaan yang memandang “yang lain” (nasabah, mitra kerja, manusia lain dan lingkungan) sebagai yang setara, yang harus diperlakukan dengan rasa cinta kasih, berkeadilan dan empati.
Manusia lain adalah juga wajah-wajah yang memiliki mimpi-mimpi yang sama. Kebutuhan dan ketidakberdayaan seseorang tidak boleh dipandang sebagai kesempatan untuk menguasai, tetapi harus dilihat dengan rasa compassion, empati dan kebaikan hati untuk menghilangkan ketidakberdayaan itu. Prinsip kemitraan yang memanusiakan manusia lain, dan kebersamaan dalam kesetaraan inilah yang kemudian menjadikan sistem perbankan syariah lebih dari sekedar bank."
Mana ada di mainstream economics kita temukan "compassions"..."empati"..."kebaikan hati"...."kemitraan yang setara"..."keadilan"...."memandang alam lingkungan dengan rasa cinta kasih"....?? Bank syariah ga akan ngasih kredit ke bisnis yang membabati hutan krn itu mengancam kelestarian alam. Bank syariah ga boleh ngasih kredit ke bisnis yang menghasilkan pencemaran lingkungan. Bahkan bank syariah ga boleh ngasih kredit ke bisnis rokok atau minuman keras. Hmm…ga aneh kalau bule jadi jatuh cinta….pada waktunya mereka akan kasih hadiah Nobel juga ke bank syariah hahahaha… :p
Ingin ikutan bisa jatuh cinta? Tutup telinga anda dari hiruk-pikuk jargon-jargon, dan lihatlah iB (ai-Bi) bank syariah secara lebih mendalam. Di sana akan anda temukan ethical banking...ethical investment...ethical bankers....
Ingin membuat masyarakat jatuh cinta kepada iB (ai-Bi)? Stop preaching..and start SELLING your products and virtues !!..
Hampir pasti bukan karena alasan-alasan keagamaan. Urusan Hongkong dan Singapura, misalnya, bisa jadi cuma soal ngumpulin duit sebanyak2nya. Urusan negara-negara Barat lain, barangkali lebih sophisticated dan "mature": ethical economics!
Ketika bule Eropa dan Amerika taraf ekonominya sudah mapan, maka meningkatlah kesadarannya beyond urusan sembako dan duit. Sekarang mereka mikir soal-soal yang lebih "soft": bagaimana mengurangi efek global warming? bagaimana mengurangi kerusakan alam lingkungan? bagaimana menciptakan kehidupan sosial yang berkeadilan dan sejahtera? (welfare) Bagaimana manusia bisa hidup secara berkualitas? (freedom, education) bagaimana membangun semangat sosial dalam komunitas-komunitas? ...termasuk di dalamnya bagaimana berbisnis secara lebih etis? bisnis di berbagai sektor: etis dalam berbanking..etis dalam berinvestasi.
Bule sedang jatuh cinta sama Ethical banking dan ethical investment. Mereka rajin berkampanye utk hanya menggunakan bank-bank yang mendukung investasi yang etis yang mendukung kelestarian alam lingkungan. Bank yang ngasih kredit ke bisnis penebangan hutan..nggak laku. Bank yang ketauan ngasih kredit ke pabrik2 peghasil limbah..nggak laku. Bank yang ngasih kredit ke bisnis eksploitasi alam dan merusak alam..nggak laku.
Bule sedang jatuh cinta sama bank yang peduli dengan small enterpreneurs alias pengusaha kecil alias UMKM. Grameen bank-nya Muhammad Yunus di Bangladesh dipuja-puja dan dikasih hadiah nobel. Bule terpesona dan jatuh cinta sama yang kayak beginian sekarang..
Bule sedang jatuh cinta sama bank syariah. Betapa tidak? Coba lihat apa yang ditawarkan oleh sistem bank syariah:
"Kebersamaan dan kemitraan adalah nilai-nilai yang dikedepankan oleh sistem perbankan syariah, yang menjadi prinsip dan semangat dari setiap produk bank syariah yang ditawarkan kepada masyarakat. Sistem perbankan syariah dalam menjalankan aktivitas bisnisnya tetap menjaga visi kemanusiaan yang memandang “yang lain” (nasabah, mitra kerja, manusia lain dan lingkungan) sebagai yang setara, yang harus diperlakukan dengan rasa cinta kasih, berkeadilan dan empati.
Manusia lain adalah juga wajah-wajah yang memiliki mimpi-mimpi yang sama. Kebutuhan dan ketidakberdayaan seseorang tidak boleh dipandang sebagai kesempatan untuk menguasai, tetapi harus dilihat dengan rasa compassion, empati dan kebaikan hati untuk menghilangkan ketidakberdayaan itu. Prinsip kemitraan yang memanusiakan manusia lain, dan kebersamaan dalam kesetaraan inilah yang kemudian menjadikan sistem perbankan syariah lebih dari sekedar bank."
Mana ada di mainstream economics kita temukan "compassions"..."empati"..."kebaikan hati"...."kemitraan yang setara"..."keadilan"...."memandang alam lingkungan dengan rasa cinta kasih"....?? Bank syariah ga akan ngasih kredit ke bisnis yang membabati hutan krn itu mengancam kelestarian alam. Bank syariah ga boleh ngasih kredit ke bisnis yang menghasilkan pencemaran lingkungan. Bahkan bank syariah ga boleh ngasih kredit ke bisnis rokok atau minuman keras. Hmm…ga aneh kalau bule jadi jatuh cinta….pada waktunya mereka akan kasih hadiah Nobel juga ke bank syariah hahahaha… :p
Ingin ikutan bisa jatuh cinta? Tutup telinga anda dari hiruk-pikuk jargon-jargon, dan lihatlah iB (ai-Bi) bank syariah secara lebih mendalam. Di sana akan anda temukan ethical banking...ethical investment...ethical bankers....
Ingin membuat masyarakat jatuh cinta kepada iB (ai-Bi)? Stop preaching..and start SELLING your products and virtues !!..
Kamis
Islam Yes, Bank Islam..Itung-Itung Dulu aah..
Padahal sudah tujuh belas tahun bank syariah hadir di Indonesia, tapi mengapa share bank syariah masih ga bergerak dari angka dua koma sekian persen? Hiruk-pikuk seminar, diskusi,iklan tivi, eksibisi dan promosi, tapi mengapa jumlah nasabah bank syariah -saya adalah satu di antaranya- baru 5 juta saja? Padahal kalau mau melihat secara mendalam, produk bank syariah tidak kalah banyak dan tidak kalah bagusnya dengan produk bank konvensional.
Padahal di setiap seminar atau di media selalu ditulis,."sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim adalah potensi yang dahsyat bagi bank syariah"...atau.."seratus sekian juta rakyat Indonesia adalah muslim dan potensial sebagai nasabah bank syariah"...atau "indonesia adalah raksasa yang sedang tidur, kita akan menjadi pusat keuangan islam dunia !"..
Padahal sudah tujuh belas tahun omongan itu mengudara bergelembung dan berbusa-busa...dan kenyataannya? Tidak terjadi tuh. Bank syariah tetep kecil. Raksasanya tetep bobo.. Seakan-akan semua angka-angka statistik-demografis kemayoritasan muslim itu tidak memberikan arti apa-apa bagi kemajuan bank syariah. Ada apa ini??...
Barulah saya sedikit mendapat pencerahan, setelah membaca bahan bacaan yang disediakan oleh panitia lomba ini. Ternyata orang islam ga otomatis mau make bank islam (bank syariah), karena ternyata ada alasan2 lain untuk memutuskan apakah mau ke bank syariah atau ke bank konvensional? Pertimbangan-pertimbangan lain. Itung-itungan lain.
Kata bacaan itu, sebenernya ada 5 jenis orang dengan profil yg berbeda-beda dalam ber-banking: orang yang ”pokoknya syariah”, orang yang ikut-ikutan, orang yang ngitung-ngitung mana yang paling menguntungkan buat mereka, orang yang terpaksa, dan orang yang udah terbiasa make bank konvensional. Ndilalah jenis orang yang "itungan" dalam ber-banking katanya paling banyak: kalau ngambil pinjeman di bank konvensional lebih murah daripada di bank syariah, ya dia akan ambil produk bank konvensional. Kalau nabung di bank syariah return-nya lebih tinggi, ya dia akan pergi ke bank syariah. Pokoknya yang paling menguntungkan lah. Jenis org kayak begini ni yang paling banyak....
Nahh..ternyata pembagiaannya ndak bisa dikotomi muslim-non muslim. Sehingga klaim bahwa orang islam pasti mau make bank islam sangat bisa dipertanyaan secara serius. Dan mendasarkan diri kepada pendekatan demografis untuk jualan bank syariah akan menyebabkan industri bank syariah "terjebak" ke dalam strategi promosi yang sebenernya cuma didenger oleh sedikit orang yang "pokoknya syariah". Target market yang lain, yang justru lebih besar jumlahnya, malah ndak peduli. Atau setidaknya cuma mendengar, adem sejenak, tapi ujung-ujungnya ya itung-itungan lagi.
Jika bank syariah tidak pintar-pintar membaca profil target market ini, dan merumuskan strategi promosi yang pas, jelas tidak akan pernah bisa membesarkan pangsa pasarnya. Karena fakta di lapangan berbicara. Penduduk muslim Indonesia sangat unik: Islam Yes, Bank Islam..itung-itung dulu aah...
Padahal di setiap seminar atau di media selalu ditulis,."sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim adalah potensi yang dahsyat bagi bank syariah"...atau.."seratus sekian juta rakyat Indonesia adalah muslim dan potensial sebagai nasabah bank syariah"...atau "indonesia adalah raksasa yang sedang tidur, kita akan menjadi pusat keuangan islam dunia !"..
Padahal sudah tujuh belas tahun omongan itu mengudara bergelembung dan berbusa-busa...dan kenyataannya? Tidak terjadi tuh. Bank syariah tetep kecil. Raksasanya tetep bobo.. Seakan-akan semua angka-angka statistik-demografis kemayoritasan muslim itu tidak memberikan arti apa-apa bagi kemajuan bank syariah. Ada apa ini??...
Barulah saya sedikit mendapat pencerahan, setelah membaca bahan bacaan yang disediakan oleh panitia lomba ini. Ternyata orang islam ga otomatis mau make bank islam (bank syariah), karena ternyata ada alasan2 lain untuk memutuskan apakah mau ke bank syariah atau ke bank konvensional? Pertimbangan-pertimbangan lain. Itung-itungan lain.
Kata bacaan itu, sebenernya ada 5 jenis orang dengan profil yg berbeda-beda dalam ber-banking: orang yang ”pokoknya syariah”, orang yang ikut-ikutan, orang yang ngitung-ngitung mana yang paling menguntungkan buat mereka, orang yang terpaksa, dan orang yang udah terbiasa make bank konvensional. Ndilalah jenis orang yang "itungan" dalam ber-banking katanya paling banyak: kalau ngambil pinjeman di bank konvensional lebih murah daripada di bank syariah, ya dia akan ambil produk bank konvensional. Kalau nabung di bank syariah return-nya lebih tinggi, ya dia akan pergi ke bank syariah. Pokoknya yang paling menguntungkan lah. Jenis org kayak begini ni yang paling banyak....
Nahh..ternyata pembagiaannya ndak bisa dikotomi muslim-non muslim. Sehingga klaim bahwa orang islam pasti mau make bank islam sangat bisa dipertanyaan secara serius. Dan mendasarkan diri kepada pendekatan demografis untuk jualan bank syariah akan menyebabkan industri bank syariah "terjebak" ke dalam strategi promosi yang sebenernya cuma didenger oleh sedikit orang yang "pokoknya syariah". Target market yang lain, yang justru lebih besar jumlahnya, malah ndak peduli. Atau setidaknya cuma mendengar, adem sejenak, tapi ujung-ujungnya ya itung-itungan lagi.
Jika bank syariah tidak pintar-pintar membaca profil target market ini, dan merumuskan strategi promosi yang pas, jelas tidak akan pernah bisa membesarkan pangsa pasarnya. Karena fakta di lapangan berbicara. Penduduk muslim Indonesia sangat unik: Islam Yes, Bank Islam..itung-itung dulu aah...
Selasa
Paradoks Ber-bank Syariah
Karena boleh ngirim artikel untuk Lomba Blogger iB lebih dari satu, ini adalah tulisan saya yang kedua. Kali ini tentang paradoks yang saya temukan di banyak kesempatan, sebuah kenyataan betulan dan bukan rekaan, yang pada setiap kalinya saya jadi bergumam.."oo..begini tho? makanya bank syariah di Indonesia ga gede-gede..."
Dalam sebuah acara forum diskusi ilmiah tingkat nasional, dengan topik tentang perbankan syariah. Sebagai pembicara adalah wakil dari sebuah bank syariah terkemuka, otoritas pengawas bank, dan wakil dari pimpinan sebuah perguruan tinggi negeri ngetop yang punya jurusan ekonomi syariah. Sang akademisi dengan sangat bersemangat berbicara panjang lebar, mencoba meyakinkan para peserta seminar tentang keunggulan dan kehebatan ekonomi syariah dan perbankan syariah. Bla..bla..bla..(sepeti kata Eko Patrio seperti di acara tivi lomba nyanyi itu). Dan bahwa membesarnya bank syariah akan mendukung stabilitas ekonomi nasional...sistem bank syariah yang berbagi hasil lebih adil... bla..bla..bla. Bersemangat sekali. Di tengah suasana bersemangat itu, tiba2 seorang teman yang duduk di sebelah saya, yang kebetulan bekerja di sebuah bank syariah berbisik.."sstt..perguruan tinggi-nya aja sampe sekrang ga punya rekening bank syariah tu...".
Pada kesempatan lain, saya kebetulan diundang ke sebuah acara yang lebih berkobar-kobar lagi semangatnya. Kali ini seminar mahasiswa yang dimotori oleh sebuah forum studi mahasiswa, topiknya: kehancuran sistem kapitalisme global dan kebangkita sistem ekonomi syariah. Waah hebat banget!! Seminar dibuka oleh sang "presiden" dari organisasi mahasiswa tsb..dan dibuka dengan bersama-sama meneriakkan takbir beberapa kali. Sangat menggugah semangat dan rasa bangga, bahwa kaum muda sudah sangat serius memikirkan soal ekonomi bangsa. Seminar berlangsung meriah. Tanya jawab berlangsung seru, dari yang menggugat sistem ekonomi mainstream saat ini yang dinilai telah gagal...yang menggugat sistem perbankan berbasis bunga...yang menggugat sikap pemerintah yang kurang suportif thd pengembangan ekonomi syariah dan bank syariah..dll..dll. Meriah, bersemangat dan bergelora!..Yang menarik, adalah...ketika salah satu pembicara, dari otoritas pengawas bank, di tengah presentasinya bertanya kepada para hadirin.."Hayo siapa yang sudah punya rekening di bank syariah ??..acungkan tangan.."
.....satu....dua.....tiga....dan tidak lebih dari lima orang yang mengacungkan jari..dari sekian ratus mahasiswa yang hadir...hmmm.....
Dalam sebuah forum diskusi pertemuan antar pakar ekonomi syariah dan perbankan syariah di Jakarta, yang membahas berbagai isu strategis seputar perbankan syariah. Hadir juga seorang narasumber yang sudah sangat terkenal puluhan tahun akan kepakarannya di bidang ekonomi syariah dan perbankan syariah, dan sering menjadi narasumber dalam berbagai events nasional maupun internasional tentang topik tersebut. Diskusi berlangsung sangat menarik, informatif, berkelas, dan mencerahkan.
Lebih menarik adalah ketika honorarium kepada para narasumber akan disampaikan. Teknisnya oleh panitia akan ditransfer ke rekening masing-masing. Dan seorang teman, yang juga panitia acara tersebut, datang ke saya sambil geleng-geleng kepala..."ternyata...si-Bapak itu ga punya rekening bank syariah !!..omg.." ..
Di acara televisi, banyak tokoh besar berteriak-teriak soal ekonomi syariah dan perbankan syariah. Di koran dan media cetak, banyak tokoh menulis tentang perbankan syariah. Di kampanye-kampanye, banyak tokoh dan kandidat bicara soal membesarkan ekonomi syariah dan perbankan syariah....
Tapi apakah kenyataannya seindah lisan dan kata-kata yang dihambur-hamburkan?
Sepertinya soal mengumbar kata-kata tentang hebatnya bank syariah adalah satu soal, sementara untuk menggunakan bank syariah dalam kehidupan sehari-hari..ternyata adalah soal yang lain lagi..yang membutuhkan lebih banyak pertimbangan lain lagi...driving force lain lagi..yang nampaknya lebih dalam dari sekedar jargon dan kata-kata. Sekian.
tulisan ini juga dipost di: http://sketsajanoe.blogspot.com/
Dalam sebuah acara forum diskusi ilmiah tingkat nasional, dengan topik tentang perbankan syariah. Sebagai pembicara adalah wakil dari sebuah bank syariah terkemuka, otoritas pengawas bank, dan wakil dari pimpinan sebuah perguruan tinggi negeri ngetop yang punya jurusan ekonomi syariah. Sang akademisi dengan sangat bersemangat berbicara panjang lebar, mencoba meyakinkan para peserta seminar tentang keunggulan dan kehebatan ekonomi syariah dan perbankan syariah. Bla..bla..bla..(sepeti kata Eko Patrio seperti di acara tivi lomba nyanyi itu). Dan bahwa membesarnya bank syariah akan mendukung stabilitas ekonomi nasional...sistem bank syariah yang berbagi hasil lebih adil... bla..bla..bla. Bersemangat sekali. Di tengah suasana bersemangat itu, tiba2 seorang teman yang duduk di sebelah saya, yang kebetulan bekerja di sebuah bank syariah berbisik.."sstt..perguruan tinggi-nya aja sampe sekrang ga punya rekening bank syariah tu...".
Pada kesempatan lain, saya kebetulan diundang ke sebuah acara yang lebih berkobar-kobar lagi semangatnya. Kali ini seminar mahasiswa yang dimotori oleh sebuah forum studi mahasiswa, topiknya: kehancuran sistem kapitalisme global dan kebangkita sistem ekonomi syariah. Waah hebat banget!! Seminar dibuka oleh sang "presiden" dari organisasi mahasiswa tsb..dan dibuka dengan bersama-sama meneriakkan takbir beberapa kali. Sangat menggugah semangat dan rasa bangga, bahwa kaum muda sudah sangat serius memikirkan soal ekonomi bangsa. Seminar berlangsung meriah. Tanya jawab berlangsung seru, dari yang menggugat sistem ekonomi mainstream saat ini yang dinilai telah gagal...yang menggugat sistem perbankan berbasis bunga...yang menggugat sikap pemerintah yang kurang suportif thd pengembangan ekonomi syariah dan bank syariah..dll..dll. Meriah, bersemangat dan bergelora!..Yang menarik, adalah...ketika salah satu pembicara, dari otoritas pengawas bank, di tengah presentasinya bertanya kepada para hadirin.."Hayo siapa yang sudah punya rekening di bank syariah ??..acungkan tangan.."
.....satu....dua.....tiga....dan tidak lebih dari lima orang yang mengacungkan jari..dari sekian ratus mahasiswa yang hadir...hmmm.....
Dalam sebuah forum diskusi pertemuan antar pakar ekonomi syariah dan perbankan syariah di Jakarta, yang membahas berbagai isu strategis seputar perbankan syariah. Hadir juga seorang narasumber yang sudah sangat terkenal puluhan tahun akan kepakarannya di bidang ekonomi syariah dan perbankan syariah, dan sering menjadi narasumber dalam berbagai events nasional maupun internasional tentang topik tersebut. Diskusi berlangsung sangat menarik, informatif, berkelas, dan mencerahkan.
Lebih menarik adalah ketika honorarium kepada para narasumber akan disampaikan. Teknisnya oleh panitia akan ditransfer ke rekening masing-masing. Dan seorang teman, yang juga panitia acara tersebut, datang ke saya sambil geleng-geleng kepala..."ternyata...si-Bapak itu ga punya rekening bank syariah !!..omg.." ..
Di acara televisi, banyak tokoh besar berteriak-teriak soal ekonomi syariah dan perbankan syariah. Di koran dan media cetak, banyak tokoh menulis tentang perbankan syariah. Di kampanye-kampanye, banyak tokoh dan kandidat bicara soal membesarkan ekonomi syariah dan perbankan syariah....
Tapi apakah kenyataannya seindah lisan dan kata-kata yang dihambur-hamburkan?
Sepertinya soal mengumbar kata-kata tentang hebatnya bank syariah adalah satu soal, sementara untuk menggunakan bank syariah dalam kehidupan sehari-hari..ternyata adalah soal yang lain lagi..yang membutuhkan lebih banyak pertimbangan lain lagi...driving force lain lagi..yang nampaknya lebih dalam dari sekedar jargon dan kata-kata. Sekian.
tulisan ini juga dipost di: http://sketsajanoe.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)

