Golden Moments. The picture was taken at the beach of Parangkusumo, Yogyakarta, Indonesia.A little boy was running on the beach and jumping over the waves, and this picture beautifully captured the happy moments before sunset...
.
Masih Pagi di Tugu. The picture was taken in the morning at Tugu of Yogyakarta, Indonesia with Digital SLR Canon EOS 5D. .
Lifetime Devotion. Picture was taken on March 9, 2009 with Digital SLR Canon EOS 5D. Location: Siti Hinggil Pagelaran of The Palace (Kraton) of Yogyakarta, Indonesia. Siti Hinggil means "elevated land" in Javanese, while Pagelaran denotes an area close to the entrance which functions as a waiting place for the chief ministers (called "Patih" in Javanese) and their governing members before meeting the Sultan.
.
Blangkon Still Alive. Blangkon is a traditional javanese hat, the most popular hat in Central Java and Yogyakarta. The tricycle is called "becak", one of traditional mode of transportation in Indonesia.
. Kereta Kencana. Kereta is a traditional javanese carriage. Kereta Kencana means the Royal Carriage which carry the King (Sultan) from the palace to places. This one is is the oldest carriage displayed at the Museum Kereta in Yogyakarta.
Harus diakui pertanyaan yang bertubi-tubi tentang ekonomi rakyat seperti ini bersumber pada salah mengerti bahwa seakan-akan konsep ekonomi rakyat ini ditemukan dan diperkenalkan oleh Adi Sasono atau Mubyarto atau Sajogyo, dan alasan pengenalannyapun tidak ilmiah tetapi hanya untuk tujuan politik yang ”populis”, yaitu untuk ”memenangkan pemilu”.
Mudah-mudahan akan jelas bagi kita semua bahwa istilah ekonomi rakyat adalah istilah ekonomi sosial (social economics) dan istilah ekonomi moral (moral economy), yang sejak zaman penjajahan dimengerti mencakup kehidupan rakyat miskin yang terjajah. Bung Karno menyebutnya sebagai kaum marhaen.
Jadi ekonomi rakyat bukan istilah politik ”populis” yang dipakai untuk mencatut atau mengatas namakan rakyat kecil untuk mengambil hati rakyat dalam Pemilu.
Ekonomi Rakyat adalah kegiatan atau mereka yang berkecimpung dalam kegiatan produksi untuk memperoleh pendapatan bagi kehidupannya. Mereka itu adalah petani kecil, nelayan, peternak, pekebun, pengrajin, pedagang kecil dll, yang modal usahanya merupakan modal keluarga (yang kecil), dan pada umumnya tidak menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga. Tekanan dalam hal ini adalah pada kegiatan produksi, bukan konsumsi, sehingga buruh pabrik tidak masuk dalam profesi atau kegiatan ekonomi rakyat, karena buruh adalah bagian dari unit produksi yang lebih luas yaitu pabrik atau perusahaan. Demikian meskipun sebagian yang dikenal sebagai UKM (Usaha Kecil-Menengah) dapat dimasukkan ekonomi rakyat, namun sebagian besar kegiatan ekonomi rakyat tidak dapat disebut sebagai ”usaha” atau ”perusahaan” (firm) seperti yang dikenal dalam ilmu ekonomi perusahaan.
Jika disadari bahwa buku Smith tahun 1759 berjudul The Theory of Moral Statements, padahal kita hanya mengajarkan ke pada mahasiswa kita buku ke duanya yaitu The Weath of Nations (1776), kiranya kita para dosen ilmu ekonomi harus mengaku ”berdosa” atau paling sedikit mengakui kekeliruan kita.
Mengapa mahasiswa ekonomi hanya memahami manusia sebagai ”homo ekonomikus”, dan bukan sebagai ”homo moralis” atau ”homo socius” ? Itulah, karena ilmu ekonomi kita ajarkan sebagai ilmu yang super spesialistik, yang matematik, sehingga sifatnya sebagai ilmu sosial menjadi hilang. Memang Kenneth Boulding telah berjasa mengingatkan bahwa ilmu ekonomi dapat dipelajari sebagai : (1) ilmu ekologi; (2) ilmu perilaku; (3) ilmu politik; (4) ilmu matematik; (5) ilmu moral.
Tetapi berapa banyak di antara kita yang membahasnya atau menyinggung di ruang kuliah sebagai ilmu moral? Sangat sedikit, karena kita lebih suka menganggap ilmu ekonomi sebagai ilmu positif (positive science), dan cenderung mengejek ekonom lain yang mengajarkannya sebagai ilmu yang normatif (normative science). Terhadap konsep Ekonomi Pancasila yang pernah mencuat di wacana nasional, ada Ekonom Senior kita yang mengejek bahwa “tidak ada gunanya mengajarkan ilmu surga di dunia”
Karena tidak banyak manfaatnya lagi mengingatkan kritik-kritik radikal terhadap ilmu ekonomi seperti Paul Ormerod dalam The Death of Economics (1994), (karena buku seperti ini pasti sudah ”disingkirkan” sejak awal), maka buku klasik Kenneth Boulding diatas kiranya lebih tepat untuk dikutip.
Our graduate schools may easily be producing a good deal of the ”trained incapacity”, which Veblen saw being produced in his day, and this is a negative commodity unfortunately with a very high price.(Boulding, Kenneth, E. Economics as a Science, Tata McGraw-Hill, Bombay 1970, op. cit.hal 156)
Kami sangat khawatir kita tidak terlalu peduli apakah sarjana-sarjana ekonomi yang kita hasilkan akan merupakan ”trained incapacity” atau bukan? Mudah-mudahan melalui diskusi-diskusi ini makin banyak dosen di fakultas-fakultas ekonomi yang tersadar, berpikir, dan menjadi peduli pada misi pendidikan kita sekarang dan di masa depan. Jika tidak kita patut bertanya, Quo Vadis Fakultas Ekonomi Kita?
Prof. Dr. Mubyarto : Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM dan Ketua Yayasan Agro Ekonomika http://www.ekonomirakyat.org/edisi_1/artikel_2.htm
Kesejahteraan adalah janji yang tak pernah basi untuk dijual oleh siapapun yang ingin membeli banyak hati. Setiap pemimpin bersumpah akan membawa kesejahteraan bagi mereka yang dipimpinnya, tetapi banyak sudah janji yang tidak terpenuhi atau bahkan dikhianati. Menjadi sejahtera adalah mimpi semua manusia, namun tak banyak yang tahu kemana harus mengejarnya dan bagaimana menggapainya? Mencari kesejahteraan belakangan ini ibarat berputar-putar mengejar satu fatamorgana, untuk kemudian tersesat di fatamorgana yang lain yang menjanjikan pemuas dahaga namun lagi-lagi hampa, atau bahkan menjerumuskan kepada binasa.
Negara, sebagai suatu institusi supra kemana individu menyerahkan sebagian kekuasaannya (dengan sukarela ataupun dengan paksaan), tak lagi pernah berhasil menunjukkan bahwa ia mampu menghantarkan rakyatnya ke gerbang sejahtera. Sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi kini hanya bisa kita temui di dalam kisah-kisah seribu satu malam a la Sultan Harun Al-Rasyid atau kisah raja-raja peminang putri salju dan cinderella.
Apakah kesejahteraan (well-being) kini telah kehilangan makna? Sehingga kata itu hanya tinggal kerangka tanpa jiwa, yang bisa digunakan dan dilantangkan oleh siapapun (juga oleh negara) tapi tak pernah bisa menghidupkan jiwa-jiwa? Dimanakah ruh dari kata “sejahtera”? Sehingga ia bisa berdaya membebaskan dirinya dari belenggu perbudakan ideologi yang ditunggangi oleh kepentingan pribadi para penguasa, berdaya menghidupkan kesadaran individu dari tipuan berbalut jargon-jargon palsu, dan menjadi daya hidup bagi negara untuk menjadi seharusnya ia menjadi.
Amartya Sen dalam bukunya “Inequality Reexamined” (1992) menegaskan, bahwa kesejahteraan (well-being) tidak cukup diukur dari indikator agregat makroekonomi semisal GDP, GNP atau Real Incomes. Tidak pula memadai jika kesejahteraan hanya diukur dari kecukupan bahan pokok (primary goods) ataupun sumberdaya (air, energi, other resources). Negara yang memiliki tingkat GDP yang tinggi, seringkali masih menghadapi masalah kemiskinan dan kesenjangan akut di perekonomian domestiknya. Dua orang individu yang memiliki sumberdaya yang sama seringkali mencapai kemakmuran (wealth) yang berbeda.
Bagi Sen, primary goods dan resources baru merupakan “bahan dasar” yang masih perlu ditransformasi menjadi hal-hal yang memang menjadi karakteristik dari kesejahteraan. Dalam terminologi Sen, karakteristik kesejahteraan adalah tercapainya “functioning”. Dan untuk mencapai functioning tersebut, individu perlu memiliki "capability"...kemampuan untuk mentransformasikan bahan dasar yang dimilikinya menjadi kesejahteraan.
Functioning merupakan aspek paling esensial dari keberadaan seorang manusia. Ia bisa berupa keadaan konkrit, semisal terpenuhinya kebutuhan pangan, selalu dalam keadaan sehat, terhindar dari kematian (avoiding escapable morbidity), atau berupa kondisi abstrak semisal menjadi bahagia, dihormati, bebas dari rasa takut, bisa berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat (tidak terasing). Tercapainya keadaan/kondisi-kondisi tersebutlah yang sesungguhnya merupakan pencapaian kesejahteraan yang sebenarnya.
Capability merupakan berbagai kombinasi functioning yang bisa dicapai oleh seorang individu, dan oleh karenanya menentukan tingkat kesejahteraan yang mungkin dicapainya. Dua orang individu dengan sumberdaya yang sama, dapat memiliki capability yang berbeda. Misalnya individu yang cacat (handicapped) tentu saja memiliki keterbatasan dalam mengolah sumberdaya yang dimiliki dibandingkan dengan orang normal lainnya. Demikian pula, setiap individu memiliki variasi karakteristik personal masing-masing, misalnya perbedaan kekuatan fisik, kemampuan intelektual, tingkat kematangan, agresivitas usaha, dll, yang semuanya sangat mempengaruhi bagaimana ia mentransformasi sumberdaya. Yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat kesejahteraan yang bisa dicapainya.
Capability adalah refleksi dari derajat kebebasan seseorang (person’s freedom) dalam mencapai well-being. Capability set seseorang meliputi berbagai kombinasi functionings, maka mencerminkan tingkat kebebasan seseorang yang berbeda untuk memilih di antara tingkat kehidupan yang mungkin baginya (freedom of choice). Well-being terwujud dengan dicapainya functioning. Dan keduanya, functioning DAN capability, secara tak terpisahkan harus menjadi definisi yang sesungguhnya dari kesejahteraan.
Tak dapat dipungkiri, bahwa kemajuan teknologi yang sangat pesat telah membuat kehidupan masyarakat modern menjadi semakin mudah dan efisien. Pengembangan mesin-mesin produksi dan robotik yang semakin canggih, dan tata kelola/organisasi yang berorientasi kepada output, berhasil mendorong produktivitas sektor-sektor ekonomi modern dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kebutuhan masyarakat modern pun semakin berlipat ganda melebihi kebutuhan-kebutuhan mendasarnya, yang terus diciptakan dan dirangsang secara agresif oleh advertising dan promosi yang bersifat masif oleh berbagai industri.
Tanpa disadarinya manusia modern secara bersama-sama telah membangun sebuah mesin raksasa, yang kemudian mendikte diri mereka tentang apa yang diperlukan dan bagaimana ia harus menjalani hidup, dan juga menjadikannya sekedar sebagai alat produksi dan roda gigi.
Namun demikian, di balik kemajuan materialistis tersebut sesungguhnya telah terjadi kemerosotan sebagaimana diamati oleh Gabriel Marcel (1889-1973), seorang filosof existansialis. Menurut Marcel, komodifikasi manusia modern oleh teknologi telah menyebabkan terjadinya “transvaluasi masif” yaitu penghapusan sifat “sakral” dari manusia dan meletakkan manusia sebagai budak dari mesin dan teknologi. Dalam dunia yang didominasi oleh teknologi, maka terjadi perubahan posisi dari manusia sebagai subyek menjadi semata obyek (human object). Dalam bukunya Man Against Mass Society (1955), Marcel mengungkapkan bahwa teknologi telah berhasil membujuk manusia untuk menempatkan teknologi secara sejajar dengan dirinya, dan dengan demikian telah berhasil meyakinkan manusia untuk berpartisipasi dalam memusnahkan keberadaan dirinya sendiri.
Marcel juga melihat bahwa masyarakat modern mengalami penciutan realitas, di mana keutuhan realitas dan individualitas telah di-abstraksi sedemikian rupa menjadi sekumpulan massa yang seragam (l’homme-mass).
Dan dalam kondisi demikian, sebagaimana sejarawan Christopher Lasch (1932-1994) mengungkapkan dalam bukunya The Culture of Narcissism (1979), maka manusia modern mengalami “patologi narsistik” dengan gejala melemahnya kesadaran akan diri (minimal self), ketidakmampuan mengenali yang lain (inward looking), keterasingan dari realitas (distanced, alienasi), rendahnya kepercayaan diri di hadapan arus pencitraan dan ilusi, serta ketidakpedulian terhadap yang lain.
Note: Maaf jika ada kata dan tulisan yang dianggap tidak sopan. Sama sekali tidak bermaksud untuk melanggar batas etika, namun biarlah semua tahu bahwa kenyataan kekejaman yang mereka alami memang sangat jauh melebihi batas-batas kemanusiaan...
Ibu Rusminah, 68 tahun, sekarang usaha warung sembako diGurah-Kediri
Nduk, biarlah Ibu hidup di sini di desa Gurah yang kecil ini. Beristirahat dalam kedamaian, yang akhirnya Ibu temukan disini, di tanah kelahiran Ibumu ini. Hingga akhir waktu nanti. Terlalu banyak letih dan telah kering airmata untuk menangisi kisah gelap kehidupan Ibu. Dan biarlah itu menjadi milik Ibu sendiri. Sementara kamu, Nduk..hiduplah dengan bahagia. Duniamu masih luas terbentang..sementara dunia Ibu..ah Ibu ndak pingin kamu tahu…
“Iki kabeh kanggo mulyake uripmu, Nduk..”, begitu simbah puterimu waktu itu menasehati Ibu untuk pasrah nrimo perjodohan dengan Bapakmu. Ibumu cuma guru sekolah rakyat, ndak tau apa-apa soal peristiwa-peristiwa besar kecuali hanya ingin ikut mendidik dan menjadikan anak-anak desa menjadi lebih pintar. Bapakmu memang aktif dalam organisasi untuk membela rakyat kecil. Ia pergi kesana-kemari entah kemana, karena ia memang ndak mau melibatkan Ibu dalam urusan pekerjaan laki-laki.
Tiba-tiba dunia Ibu berubah gelap pada suatu hari itu, satu oktober tahun enam puluh lima. Banyak tentara dan gerombolan orang tiba-tiba mengobrak-abrik rumah, menyergap, menarik-narik dan menyobek paksa pakaian Ibu. Mereka berteriak-teriak seram mencari-cari Bapak, “Mana Sutarto?!...Bakar!..Bakar semua!..”. Dan Ibu yang ndak tau apa-apa soal peristiwa-peristiwa besar di Jakarta itu, diangkut mobil tentara ke pos polisi dan tentara. Lima bulan di tahanan Kodim Kediri dan kemudian dipindah ke Pare. Duh, Nduk…hanya airmata dan darah yang Ibumu tau disana. Setiap malam setan-setan berbaju seragam itu menodai dan merusak kesucian Ibu. Setiap malam, Nduk!!..Setiap malam berganti-ganti, sendiri-sendiri maupun beramai-ramai mereka berpesta di atas tubuh Ibumu ini..yang bagi mereka seperti boleh diapakan saja karena Ibumu ini adalah seorang isteri anggota PKI ! Dan artinya Ibumu ini bukan lagi manusia di mata mereka. Cuma alat pemuas nafsu kebinatangan yang mereka sembunyikan di balik kedok “kebenaran”.
Dan ketika seorang Perwira dari mereka datang kepada Ibu, mengeluarkan Ibu dari neraka itu, sejenak Ibu memiliki harapan akan kehidupan. Ibu dbawanya ke rumah dinasnya, diberi baju dan diberi makan. Tapi, Nduk…sama saja ia! Ibu bukanlah manusia bebas, tapi tahanan rumah dengan status pembantu rumah tangga sekaligus pemuas nafsu perwira itu bertahun-tahun lamanya! Ibu ndak boleh keluar rumah..atau akan dikembalikan ke neraka. Ibu ndak pernah dikawin, meskipun kamu terlahir di rumah itu. Baginya, Ibu cuma perabot rumah tangga yang digunakan jika perlu, untuk kemudian dibuang setelah bosan. Ia begitu saja pergi ke Makassar, meninggalkan Ibu dan kamu bernasib tak tentu.
Saat itulah Ibu kembali ke sini, ke desa kecil tanah kelahiran ini, menitipkanmu ke simbah kakung dan putri dan kemudian diangkat anak oleh Ibu Lasmi, pemilik Konveksi tempat Ibu bekerja. Dan Ibu bersyukur, karena kamu akhirnya bisa jalani hidupmu dengan lebih baik…lulus SMA..lulus jadi sarjana..kerja di bank…dan berkeluarga sekarang. Hidupmu terbentang, Nduk. Raihlah itu. Biarlah Ibu di sini saja, di kota kecil sini…
Ibu Yanti, 57 tahun, sekarang berjualan sayur dan buah di Jakarta
Anak-anakku, Ibu hanya mempunyai satu keinginan sebelum Ibu mati. Yaitu..bertemu keluarga almarhum jenderal-jenderal itu. Ibu mau menceritakan kepada mereka, bahwa Ibu bukan pembunuh jenderal apalagi penyayat-nyayat penis mereka..
Ibu baru berumur 14 tahun, sekolah SMP, waktu tentara-tentara itu menangkap Ibu. Saat itu jiwa muda Ibu sedang bersemangat karena terbakar api “Ganyang Malaysia” yang dikobarkan oleh Presiden Sukarno, dan menjalani latihan sukarelawan di kampung Lubang Buaya. Entah bagaimana, tiba-tiba di pagi buta..tentara-tentara itu merangsek barak Ibu, berteriak-teriak da menembak-nembak ke atas, “Setan! Perempuan-perempuan biadab!..Kamu ya? Yang membunuh dan menyayat-nyayat jenderal-jenderal kami!?”. Dan Ibu hanya diam karena memang tidak tau apa yang mereka teriakkan itu?
Ibu dan semua perempuan hari itu dikumpulkan di lapangan, disuruh telanjang tanpa sehelai pakaianpun bahkan tanpa celana dalam. Melawan berarti pukulan popor senapan dan siksaan.Dari pagi sampai petang Ibu berdiri di lapangan, telanjang..tanpa diberi minum apalagi makan..dan terus begitu selama dua hari dua malam. Tentara-tentara itu terus berteriak-teriak, “Ini wajah telanjang perempuan-perempuan komunis! Dasar sundal! Kamu dilatih PKI disini untuk membunuh dan menyayat-nyayat tubuh kan?!”..
Disela-sela teriakan mereka, setan-setan berseragam itu megucap-usapkan ujung senjata mereka ke payudara kami, atau merudnuk dan meremas-remaskan tangan mereka, atau menusuk-nusukkan ujung aras senjata ke kemaluan kami. Bagi mereka, kami hanyalah tontonan dan obyek tertawaan menarik yang bisa menaikkan hasrat binatang mereka. Pada hari ketiga, dunia Ibu semakin gelap anakku…kami semua digiring ke barak kosong. Katanya untuk diinterogasi,tapi yang terjadi adalah penganiayaan fisik secara lebih biadab lagi. Siapa sebenarnya mereka?! Manusia atau bukan?! Mereka menyundutkan api rokok ke payudara-payudara kami, membakar rambut kemaluan, memperkosa kami secara beramai-ramai dan merusak organ seksual kami dengan benda-benda..leher botol, tongkat pemukul, kemoceng, laras senjata dan banyak lagi benda yang menumpahkan darah kami. Seperti kesetanan, mereka menyetrum jari-jari, puting-puting payudara dan klitoris kami. Terus dan terus, hingga Ibu berulangkali pingsan. “Habisi saja! Habisi!”, teriak mereka. Dan Ibu sudah hancur. Ibu menyerah.
Hanya “ya” yang boleh Ibu jawab ketika beberapa wartawan dipertemukan dengan kami. Mereka bertanya macam-macam seputar sebuah peristiwa besar tewasnya jenderal-jenderal. Dan Ibu hanya boleh menjawab “ya”…atau tiga orang algojo yang sudah berkali-kali memeriksa dan memerkosa Ibu akan menyiksa Ibu lebih kejam lagi katanya. Ramai-ramai wartawan bertanya: apakah benar Ibu ikut menyiksa jenderak-jenderal? Apakah Ibu ikut menari-narkan tarian “Harum Bunga” sambil telanjang di depan para jenderal? Apa benar Ibu dan kawan-kawan ini sukwati yang berpesta seks di depan para jenderal? Dan untuk semua hal yang Ibu tidak pernah lakukan…tapi Ibu hanya bleh manjwab “ya” dan “ya” dan “ya” saja…. Dan hadiah dari kepatuhan Ibu adalah…Ibu diperkosa berkali-kali lagi oleh seorang interogator! Mereka manusia atau bukan, Nak ?!!.Siapa mereka?!..
Ibu Darmi, 78 tahun, membuka warung di Surabaya
Anak,..jangan suruh Ibumu ini menari lagi. Jangan minta Ibumu tuk mendengarkan lagi gamelan. Karena batin ini menjadi menjerit sekeras-kerasnya. Karena pada setiap dentingnya membawa kembali kisah gelap. Dan pada setiap lekuk geraknya dibasahi air mata dan darah.
Seandainya anak tahu, sesungguhnya darah Ibumu adalah darah seorang penari. Dan ruh jiwa Ibu adalah ruhnya penari. Ibumu ini sampai menari di istana di hadapan Presiden Sukarno. Yang Ibu tahu, bahwa Tuhan menganugerahkan keindahan gerak untuk Ibumu ini, yang melaluinya Ibu temukan bahagia. Ibu tahu, bahwa Bapakmu sangat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Tapi Ibu tak pernah punya ketertarikan untuk itu, dan Bapakmu memang tak membolehkan Ibu untuk ikut berorganisasi. Ibu hanya boleh menari, karena disitulah bahagianya Ibu…
Tapi jiwa dan daya hidup Ibu kemudian direnggut paksa pada suatu hari di penghujung bulan oktober tahun enam puluh lima. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja orang banyak menyerbu dan membakar rumah kami. Mereka berteria-teriak, membawa keris, kelewang, tombak, dan kayu-kayu pemukul..menebas Bapamu dan Kakiangmu hinga mereka tewas. Ibu dan kamu tak bergerak bersembunyi di balik rumpun bambu, tapi ahirnya mereka tahu, “Ini dia! Di sini! Istri dan anaknya!..Bunuh! Bunuh! Bakar! Bakar!..” teriak mereka..
Anak, wajah-wajah mereka menjelma siluman dan leak. Pakaian Ibumu mereka renggut dan sobek dan Ibu diarak berjalan kaki keliling desa. Di leher Ibu, mereka gantungkan tulisan besar “Aku Lonte PKI” dan di punggung “Aku Dajal! Pembunuh Jenderal!”. Ibu tidak tahu apa maksud mereka? Siapa itu jenderal-jenderal yang mereka maksudkan? Yang Ibu tahu cuma menari…
Tapi mereka sudah menjelma buta. Ibu diikat di depan balai desa, dan bayak laki-laki menggerayangi seluruh lekuk dan lindap-lindap tubuh Ibu. Sehari semala penuh, tanpa minum dan tanpa makan. Telanjang. Hari berikutnya Ibu digiring ke pos tentara. Disana tak berbeda yang Ibu jumpai. Ibu diinterogasi tanpa henti selama dua hari, dan selama itu juga Ibumu disuruh menari di atas meja interogasi dengan telanjang bulat. Dan siluman leak berseragam itu menggerayangi bagian –bagian tubuh Ibu dengan semau-mau mereka. Duh Anak,…perlakuan mereka sangat durjana! Untunglah kemudian Ibu dibebaskan karena mereka tidak bisa membuktikan keterlibatan Ibu dengan PKI maupun ormas2nya. Ibumu cuma penari. Tapi Ibu tetap wajib lapor setiap bulannya.
Duh Anak,..derita belum sirna ternyata! Setiap kali lapor ke kantor tentara, terus saja Ibu dipaksa untuk melayani nafsu binatang para pembesar tentara di kantor mereka. Terkadang Ibu dibawa ke tempat-tempat dan diperkosa, terkadang mereka datang bergiliran ke rumah Ibu untuk menagih setoran buat nafsu leaknya. Mereka datang dan pergi. Tidak peduli siang atau malam hari. Kalo Ibu menolak, mereka mengancam akan menuduh Ibu sebagai eks-Tapol yang melarikan diri.
Anak, Ibu tak boleh lagi masuk ke Pura. Karena bagi mereka Ibu adalah seorang pelacur dan eks-tapol komunis. Ndak ada seorangpun yang mau membela Ibumu ini. Ibu terasing, terkucil, dijauhi dan dibenci, Duh, Anak..betapa manusia itu sangat mudah menjadi siluman pembenci dan perusak yang berkedok “kebenaran” dan “kesucian”. Bahkan keluarga Ibu sendiri sudah menghapus nama Ibu dari silsilah keluarga. Alangkah dahsyatnya peristiwa besar di akhir september enam puluh lima itu! Ibu yang hanya tahu mencintai suami, dan kami sama-sama mencintai seni tari..sekarang sudah dianggap mati oleh sanak keluarga sendiri!!...
Sejak saat itu, Ibumu tak pernah lagi menari. Meski bagi Ibu menari adalah gerakan jiwa dan daya hidup..namun sejak peristiwa itu menari telah menjadi mimpi terburuk dalam kehidupan Ibu. Tak bisa lagi Ibu mendengar gamelan. Tak sanggup lagi Ibu menari. Anak, Ibumu sekarang ini tinggal sebatang jasad. Tanpa jiwa-raga, tubuh dan ruh yang penari. Inilah beban yang harus Ibu pikul, mungkin sampai nafas ini berhenti…
Dedicated to mothers who've been living in the darkside of this life. May God bless you all, Ibu...
Disarikan dibahasakan kembali dari tuturan lisan langsung para korban yang dirangkum dalam buku “Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65” by Ita F.Nadia, Galang Press, 2008.
Mengalir melintasi seribu kota penuh tawa dan air mata, pada setiap butirnya ditulisi kisah cinta amarah kebencian ketidakberdayaan harapan dan kerinduan. Mengaliri sungai yang arah mengarusnya dan setiap kelokannya tlah disediakan baginya, bahkan jauh sebelum ia lahir dari mata airnya. Tak ada kebetulan, tak ada kesalahan. Karena semuanya tlah tertuliskan...sepanjang mengalir menuju samudera di akhir perjalanan...
Siddharta (Herman Hesse): Perjalanan Siddhartha, sang pencari, melintasi kegelisahan dalam keberlimpahan, cinta, kegilaan, pemencilan diri bahkan dalam kedekatan dengan ia sang tercerahkan. Perjalanan mencari sungai kedamaian hati...Misykat Cahaya Cahaya (Al-Ghazali): perjalanan menapaktilasi cahaya menuju Sang Sumber segala cahaya...
Saya Sedang Baca Buku Ini:
my journey: over the Andes
menyapa awan dingin pengembaraan yang mencumbui puncak-puncak dunia
my journey:Rio de Janeiro,Brasil
..
..
my journey: Paris
bukan kemegahan monumen-monumen dan kubah-kubah berlapis emas yang mempesonaku. Hanya keheningan jalan-jalan setapak di sepanjang Seine yang membelah kota, menyapa kedalaman hatiku..."selamat datang, duhai sunyi.."
my journey: Helsinki
my journey: Pulau Oar, Banten
setitik pulau berpasir putih di ujung Barat pulau Jawa, selangkah dari pulau Umang. Sumur, Pandeglang, Banten, Indonesia
my journey: Jayapura
my journey: Kapuas River
my journey: India
Sebuah perjalanan untuk menjawab kerinduan hati terhadap keindahan dalam kesederhanaan. Dalam hiruk-pikuk kata dan jargon-jargon "kebenaran" yang memekakkan telinga, tak ada lagi damai yang bisa memuaskan dahaga hati para pencari. Yang tinggal hanyalah bungkus kosong tanpa jiwa. Hanya suara tanpa nyawa, yang tak mampu menyentuh hati..hanya telinga. Kerinduan terhadap kesederhanaan apapun, yang dalam kebersahajaan justru menyimpan keindahan. Menyimpan virtues dalam bentuknya yang paling sederhana...
..
my journey: Borobudur
Kedamaian dalam kesunyian kata. Hanya bisikan yang larut di udara, dibalut nada dan kelembutan musikalitas dewa...naik mengangkasa menyentuh pintu-pintu nirvana.