Pernyataan itu mengusik nalar saya, ketika pada sebuah forum diskusi keilmuan seorang narasumber yang terpelajar dengan menggebu-gebu menyatakan bahwa kelebihan bank syariah dalam konteks makro-moneter adalah “tidak ada multiplier effect dari bank syariah!”. Bahwa, katanya, “tidak terjadi penggandaan uang oleh bank syariah”…dan “bank syariah tidak menciptakan uang”..”tidak ada money creation” sebagaimana yang dilakukan oleh sistem perbankan yang lain. Hmm….benarkah?..
Kenapa kita membutuhkan uang? Berbagai ragam motivasi kita. Uang yang ada di dalam dompet kita, kita perlukan untuk membayar karcis busway misalnya. Atau untuk mbayar jasa ojek motor atau bertransaksi membeli sesuatu Uang yang kita selipkan di bawah bantal atau di dalam koper, misalnya untuk berjaga-jaga (precaution) jika ada sesuatu yang darurat, sehingga kita punya uang cash sebagai pegangan. Uang di celengan ayam kita, uang yang ada di rekening tabungan kita, bisa jadi dalam rangka kita menumpuk uang (hoarding dan spekulasi) supaya kelak bisa beli motor baru atau rumah.
Di bank sentral sbg otoritas moneter, setidaknya dicatat tiga motivasi besar kenapa masyarakat memegang uang: transaction motives (misalnya sebesar X triliun rupiah), precautionary motives (sebesar Y triliun), dan speculative & hoarding motives (sebesar Z triliun). Sehingga total kebutuhan likuiditas yang harus disediakan oleh otoritas moneter adalah (X+Y+Z) triliun.
Bagaimana kemudian likuiditas sebesar (X+Y+Z) triliun rupiah itu dapat disediakan oleh otoritas moneter? Apakah kemudian otoritas moneter harus mengeluarkan uang cash dari khazanahnya sebanyak (X+Y+Z) triliun tersebut seluruhnya? Sehingga semua orang yang membutuhkan uang tersebut (sebagai alat ukur nilai, alat bayar, dan alat penyimpan nilai) dapat memegang uang tersebut secara fisik dalam genggamannya masing-masing? Dapatlah dibayangkan berapa besar uang yang secara cash harus diedarkan oleh otoritas moneter!!....
Untung Ada Bank
Syukurlah, bhw kehadiran sistem perbankan sebagai sebuah entiti perantara (intermediary) kemudian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memperlancar penyediaan likuiditas bagi berbagai transaksi ekonomi yang mereka perlukan. Para pemilik pabrik tidak harus menjinjing koper penuh uang ke toko yang menjual mesin-mesin produksi. Untuk melakukan pembayaran, mereka cukup menuliskan nilai pembayaran pada selembar kertas cek, yang dengannya jumlah uangnya di bank A akan berkurang, dan sebagai padanannya jumlah uang penjual mesin di bank B akan bertambah. Pembeli mobil bekas tidak harus ketakutan membawa-bawa uang dalam amplop tebal, karena pembayaran bisa dilakukan melalui ATM. Uang tabungannya di Bank C akan berkurang, dan uang si penjual mobil di Bank D akan bertambah sebagai padanannya.
Masyarakat dapat menjadi lebih tenang dengan menyimpan uang pendapatannya pada sistem perbankan, daripada disimpan di lubang bambu atau di bawah bantal. Masyarakat yang mendambakan punya rumah dapat memperoleh bantuan pembiayaan dari sistem perbankan, yang kemudian harus ia lunasi dengan mencicil setap bulannya, dan seterusnya. Dengan hadirnya sistem perbankan, maka kehadiran likuiditas/uang secara fisik/cash dapat secara drastis dikurangi dalam berbagai transaksi produktif maupun untuk memenuhi kebutuhan menyimpan nilai dan berjaga-jaga.Life becomes much easier.
Dari Mana Uangnya?
Karena tidak semua transaksi perlu dilakukan dengan uang cash, maka secara nasional uang/likuiditas dalam wujud fisiknya pada akhirnya hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan jumlah likuiditas (X+Y+Z) triliun, misalnya sebesar M triliun. Likuiditas inilah yang antara lain kita simpan dalam dompet, di balik kemben para penjual jamu, di bawah tumpukan baju dalam lemari, dan yang disimpan oleh sistem perbankan dalam brankas besi mereka. Dalam terminologi standard sistem keuangan, uang sebesar M triliun ini disebut sebagai “jumlah uang yang diedarkan” (Secara statistik juga meliputi jumlah likuiditas milik perbankan yang disimpan di bank sentral dan jumlah likuiditas yang sangat-siap-cair/liquid dalam rekening giro yang dikelola sistem perbankan).
Nah, tugas otoritas moneterlah yang harus menyediakan M triliun ini..dengan mencetak uang sebanyak M triliun tersebut. Tidak perlu sebanyak (X+Y+Z) triliun..tapi cukup sebanyak M Triliun. Koq bisa begitu? Karena M ini disebut high-powered money, karena ia ibarat sebutir benih yang mengandung potensi tumbuh dengan energi yang sangat besar menjadi berkali lipat dirinya. Bagaimana kemudian dlm prosesnya M triliun ini bisa menjelma menjadi jumlah uang yang jauh lebih besar dari dirinya, menjadi sebanyak (X+Y+Z) triliun sesuai kebutuhan?
Untung Ada Bank Lagi…
Bank lah yang menggandakannya! Bank memiliki checking accounts, jasa transfer antar rekening tabungan, teknologi ATM, dan skim-skim pembiayaan. Dengan segenap perangkat itulah, maka sistem perbankan mampu “menciptakan uang” (money creation). Pada fractional-reserve banking system, sistem perbankan bahkan mampu menawarkan berbagai produk dan menjanjikan berbagai pembiayaan kegiatan ekonomi sampai dengan nilai sebesar (X+Y+Z) triliun, meski di tangannya hanya memegang fisik likuiditas sebesar (M-R), dimana R adalah Reserve Requirement (cadangan wajib) yang harus ia simpan di bank sentral. Di bank terjadilah “multiplier effect” atau “money creation” ini. Apapun banknya: mau bank konvensional keq…atau bank syariah keq.
Bank Syariah Apa Donk Bedanya?..
Jadi, melalui bank syariah DAN bank konvensional....otoritas moneter melipatgandakan M triliun high-powered money..”uang benih”-nya. Mekanisme ”money creation” sama-sama terjadi di bank syariah DAN di bank konvensional. Fenomena ”multiplier effect” dari M triliun menjadi berlipat-lipat triliun juga sama-sama terjadi di bank konvensional DAN bank syariah. Lho? Jadi apa bedanya donk?
Ingat kembali, bahwa motivasi besar orang memiliki uang ada 3: untuk transaksi, untuk berjaga-jaga, dan untuk menumpuk harta ataupun spekulasi. Ingat juga, bahwa bank syariah tidak boleh memberikan pembiayaan kepada usaha2/transaksi yang spekulatif. Maka...dalam perekonomian yang sudah meluas penggunaan bank syariahnya, komponen spekulatif (Z triliun) bisa diminimalisir atau bahkan dihilangkan (jika seluruh transaksi dan instrumen ekonomi sudah bebas dari motif2 spekulasi). Z = 0 triliun.
Sehingga yang ada adalah (X+Y+ nol) triliun..yaitu jumlah kebutuhan likuiditas yang secara riil dibutuhkan oleh perekonomian. Dalam lanskap sistem ekonomi Islam dengan bank syariah sebagai ”saluran irigasi likuiditasnya”...,”urat nadinya”....dimana aktivitas spekulatif dan hoarding telah berhasil dinihilkan.....maka (X+Y) triliun ini benar-benar sudah terbebas dari non-productive activities.
Bank syariah secara nasional akan tetap melakukan “money creation” sebesar (X+Y) triliun. Bank syariah tetap akan ”menggandakan uang”, dari M triliun of high-powered money menjadi (X+Y) triliun. Dan ”multiplier effect” tetap terjadi di bank syariah. Tetapi.... jumlah uang yang di-multiplierkan/digandakan adalah dari M triliun menjadi (X+Y) triliun saja. Atau persis menjadi tepat yang dibutuhkan secara cukup oleh perekonomian riil produktif. Tidak ada excess likuiditas di sektor-sektor spekulatif. Tidak meluber kemana-mana.
Mungkin itu ya maksud si narasumber itu?....:)
Tulisan ini juga diposting di : Kompasiana iB Blogger Competition
.
Sabtu
The Outliers..(ndilalah) the Opinion Makers..
Menarik sekali mengikuti perjalanan sosialisasi bank syariah ke berbagai kalangan masyarakat, dan mengamati respon yang didapat. Berbekal peta profil segmen target market bank syariah yang lima jenis itu (segmen pokoknya syariah, ikut-ikutan, itung-itung-itungan, terpaksa, dan pokoknya bukan syariah), sepertinya segmen yang satu ini ndak tercatat di mana-mana :P
Sosialisasi ke mahasiswa adalah yang paling semarak. Idealisme audiens yang sedang di puncak-puncaknya, menjadikan suasana seminar atau diskusi atau roadshow paling bersemangat. Apalagi kalau event-nya dituanrumahi oleh kelompok studi atau forum kajian mahasiswa, biasanya auranya terasa lebih garang karena dibuka dengan mengangkat kepalan tangan dan teriakan takbir seperti rapat-rapat partai saja hehe. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun tidak kalah bersemangat dan terkadang menghujat garang. Ada benang merah dari pertanyaan-pertanyaan di banyak event seperti ini: bank syariah tidak syariah !....Nah lho..
“Bank syariah sekarang kan masih nempel ke bank konvensional !..makanya tetep ga syariah !!”, tuduh salah seorang peserta.. “Duitnya aja nyampur tuhh..iiihh !!...”, tuduh seorang peserta putri dengan curiga. “ATM-nya aja jadi satu..gimana mau syariah ??!”, tuduh yang lain lagi. Hmm…mungkin karena mereka melihat banyaknya bank konvensional saat ini membuka Unit Usaha Syariah (UUS) semisal Bank Niaga Syariah, Bank Lippo Syariah, Bank Danamon Syariah, atau sebentar lagi ada Bank BCA Syariah. Dan biasanya ATM nya ya digabung jadi satu. Nasabah bank syariah kalau ambil uang tunai ya ke ATM milik bersama itu…
“Bank syariah itu kan cuma akal-akalan bisnis ! produknya sama dengan bank konvensional.Cuma dikerudungin aja kan ?!..” okee…sepertinya yang satu ini entah apakah ia sudah melihat secara mendalam skim/skema/akad yang mendasari produk2 bank syariah dan membandingkannya dgn skim/skema/akad produk bank konvensional?...atau sekedar nyomot judul produknya saja dari brosur gitu?...
“Bank itu bukan dari islam…ya ga syariah lah!...jadi, bank syariah itu ya bank-bank juga kan?!..”, cetus yang lain. “Bank itu menciptakan money multiplier effect…ga boleh lah. Nanti uang menciptakan uang. Bank syariah juga begitu kan ?!..” Hmm..yg ini pasti suka mbaca buku atau ikutan pelatihan tentang ekonomi syariah. Yang memberikan pemahaman kepada mereka tentang bank, bagaimana mekanisme operasional bank, serta apa peran bank dalam perekonomian modern…juga bahkan tentang bagaimana proses “penciptaan uang (likuiditas)” dalam sebuah sistem perekonomian modern…
“Bank itu produk sistem kapitalisme. Kita harus kaffah (=totalitas) dulu..ganti dulu semua sistemnya….semua subsistemnya….sistem ekonomi harus syariah dulu..!..” atau bahkan ..”Bank sentral-nya aja belum syariah….otoritas banknya aja belum syariah…gimana bank2nya bisa syariah ?!!...”. Nah yang ini biasanya sudah mahasiswa tingkat akhir ni, sudah lebih mendalam pengetahuannya tentang perbandingan sistem-sistem ekonomi. Bahkan seorang Doktor guru besar yang biasa jadi narasumber dimaa-mana tentang ekonomi syariah..bicara seperti ini..tentu dengan bahasa yang lebih halus. Bagi mereka, tidak mungkin ada bank syariah selama sistem besarnya tidak syariah. Entah apa yang dimaksud dengan sistem yang syariah itu..apakah dengan mengganti bank sentral dengan Baitul Maal ? Atau merubah semua bank-bank menjadi bank syariah semuanya? (tetep jadi bank juga siiih..) Atau mengganti sistem ekonomi nasional dengan sistem ekonomi syariah? Tapi gimana konkritnya? Entahlah…ilmu saya juga ndak nyandak hehe..
Memang sih pada akhirnya setiap kali “ditest” oleh pembicara, apakah mereka sudah punya rekening bank syariah.....bisa dihitung yang ngaku punya…dari sekian ratus yang hadir. Rata-rata di bawah sepuluh orang. Apakah itu karena keyakinan mereka bahwa bank syariah yang ada sekarang ini tidak/belum syariah, sehingga mereka ndak mau buka rekening syariah? Atau hanya sekedar fenomena khas dari karakteristik muslim negeri ini? (lihat tulisan saya sebelumnya: “Paradoks ber-bank syariah”). Apakah itu karena mereka sudah paham benar tentang bank syariah, sehingga bisa mencap bank syariah yang ada sekarang ini tidak syariah/belum syariah? Ataukah hanya sekedar gejolak darah muda yang selalu pingin “pokoknya saya beda !!...” :)
Tulisan ini diposting juga di: Kompasiana iB Blogger Competition
.
Sosialisasi ke mahasiswa adalah yang paling semarak. Idealisme audiens yang sedang di puncak-puncaknya, menjadikan suasana seminar atau diskusi atau roadshow paling bersemangat. Apalagi kalau event-nya dituanrumahi oleh kelompok studi atau forum kajian mahasiswa, biasanya auranya terasa lebih garang karena dibuka dengan mengangkat kepalan tangan dan teriakan takbir seperti rapat-rapat partai saja hehe. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun tidak kalah bersemangat dan terkadang menghujat garang. Ada benang merah dari pertanyaan-pertanyaan di banyak event seperti ini: bank syariah tidak syariah !....Nah lho..
“Bank syariah sekarang kan masih nempel ke bank konvensional !..makanya tetep ga syariah !!”, tuduh salah seorang peserta.. “Duitnya aja nyampur tuhh..iiihh !!...”, tuduh seorang peserta putri dengan curiga. “ATM-nya aja jadi satu..gimana mau syariah ??!”, tuduh yang lain lagi. Hmm…mungkin karena mereka melihat banyaknya bank konvensional saat ini membuka Unit Usaha Syariah (UUS) semisal Bank Niaga Syariah, Bank Lippo Syariah, Bank Danamon Syariah, atau sebentar lagi ada Bank BCA Syariah. Dan biasanya ATM nya ya digabung jadi satu. Nasabah bank syariah kalau ambil uang tunai ya ke ATM milik bersama itu…
“Bank syariah itu kan cuma akal-akalan bisnis ! produknya sama dengan bank konvensional.Cuma dikerudungin aja kan ?!..” okee…sepertinya yang satu ini entah apakah ia sudah melihat secara mendalam skim/skema/akad yang mendasari produk2 bank syariah dan membandingkannya dgn skim/skema/akad produk bank konvensional?...atau sekedar nyomot judul produknya saja dari brosur gitu?...
“Bank itu bukan dari islam…ya ga syariah lah!...jadi, bank syariah itu ya bank-bank juga kan?!..”, cetus yang lain. “Bank itu menciptakan money multiplier effect…ga boleh lah. Nanti uang menciptakan uang. Bank syariah juga begitu kan ?!..” Hmm..yg ini pasti suka mbaca buku atau ikutan pelatihan tentang ekonomi syariah. Yang memberikan pemahaman kepada mereka tentang bank, bagaimana mekanisme operasional bank, serta apa peran bank dalam perekonomian modern…juga bahkan tentang bagaimana proses “penciptaan uang (likuiditas)” dalam sebuah sistem perekonomian modern…
“Bank itu produk sistem kapitalisme. Kita harus kaffah (=totalitas) dulu..ganti dulu semua sistemnya….semua subsistemnya….sistem ekonomi harus syariah dulu..!..” atau bahkan ..”Bank sentral-nya aja belum syariah….otoritas banknya aja belum syariah…gimana bank2nya bisa syariah ?!!...”. Nah yang ini biasanya sudah mahasiswa tingkat akhir ni, sudah lebih mendalam pengetahuannya tentang perbandingan sistem-sistem ekonomi. Bahkan seorang Doktor guru besar yang biasa jadi narasumber dimaa-mana tentang ekonomi syariah..bicara seperti ini..tentu dengan bahasa yang lebih halus. Bagi mereka, tidak mungkin ada bank syariah selama sistem besarnya tidak syariah. Entah apa yang dimaksud dengan sistem yang syariah itu..apakah dengan mengganti bank sentral dengan Baitul Maal ? Atau merubah semua bank-bank menjadi bank syariah semuanya? (tetep jadi bank juga siiih..) Atau mengganti sistem ekonomi nasional dengan sistem ekonomi syariah? Tapi gimana konkritnya? Entahlah…ilmu saya juga ndak nyandak hehe..
Memang sih pada akhirnya setiap kali “ditest” oleh pembicara, apakah mereka sudah punya rekening bank syariah.....bisa dihitung yang ngaku punya…dari sekian ratus yang hadir. Rata-rata di bawah sepuluh orang. Apakah itu karena keyakinan mereka bahwa bank syariah yang ada sekarang ini tidak/belum syariah, sehingga mereka ndak mau buka rekening syariah? Atau hanya sekedar fenomena khas dari karakteristik muslim negeri ini? (lihat tulisan saya sebelumnya: “Paradoks ber-bank syariah”). Apakah itu karena mereka sudah paham benar tentang bank syariah, sehingga bisa mencap bank syariah yang ada sekarang ini tidak syariah/belum syariah? Ataukah hanya sekedar gejolak darah muda yang selalu pingin “pokoknya saya beda !!...” :)
Tulisan ini diposting juga di: Kompasiana iB Blogger Competition
.
iB..mengapa huruf i-nya kecil?....
Mungkin ini pertanyaan keseribu sekian tentang “misteri” di balik mengapa huruf i pada logo iB (ai-Bi) huruf kecil? Kenapa bukan dua-duanya huruf besar..jadi IB? Atau I-nya yang besar..jadi ditulis Ib ?
Alkisah di bulan ketiga dua tahun silam, bergulirlah gagasan untuk membuat sebuah logo yang akan menjadi ciri penanda khas bank syariah di Indonesia. Sebuah logo yg akan menjadi identitas pemersatu dari bank-bank syariah yang semakin banyak bermunculan, termasuk juga BPRS yang tumbuh bermekaran. Sehingga tercipta kesatuan citra bank syariah sebagai sebuah industri yang besar, solid dan mapan. Ibaratnya toko di ujung pulau, meski jauh terpencil tapi kalau ada logo “Visa” atau “Master Card”nya…maka toko itu tidak lagi dipandang sbg toko pinggiran…karena terhubung dgn brand global, shg orang jadi yakin untuk bertransaksi. Bank syariah di Indonesia memerlukan logo yang kredibel seperti itu…
Pada bulan kelima di tahun yg sama, proses perumusan logo industri perbankan syariah dimulai. Dan karena logo ini akan menjadi logo dari sebuah industri keuangan yang serius –sangat sangat serius-, maka amat tidak pantas untuk sekedar mencoret-coret sendiri disainnya di atas kertas..seperti mau bikin logo perkumpulan karang taruna atau vokal group sekolahan. Semuanya harus memiliki makna, bahkan untuk setiap tarikan garis, bentuk, warna dan pemilihan huruf ! Logo harus dilahirkan dari rahim perenungan yang mendalam tentang filosofi dasar dan virtues dari sistem perbankan syariah (islamic bank). Setiap pilihan bentuk dan tarikan garisnya adalah perwujudan lahir dari idea-idea bathiniah.
Adalah Irvan A. Noe’man, seorang pakar dan tokoh disain grafis terkemuka negeri ini yang kemudian membantu mengendapkan idea batiniah itu, yang dikandung oleh sistem bank syariah..dan kemudian mewujudkannya ke dalam garis, bentuk dan warna. Sebagai salah satu tokoh pendiri Indonesia Design Professionals Association (ADGI), dan juga putera dari A. Noe’man sang arsitek Masjid Salman ITB, Irvan tak diragukan lagi memiliki kepakaran disain grafis sekaligus kepekaan religius…dua kualitas yang dibutuhkan untuk melahirkan logo sekaliber industri islamic banking di Indonesia ini.
Tanggal 2 Juli 2007, logo iB dicanangkan sebagai logo resmi bagi industri perbankan syariah di Indonesia. Bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Bank Indonesia. Dan untuk keseratus sekian kalinya, pertanyaan dari yang hadir adalah..”kenapa huruf i-nya kecil yaa?..” Apakah cuma untuk pemanis-manis disain dan komposisi?
Lebih dalam dari itu! Penjelasan Irvan A. Noe’man terhadap “misteri” itu sangat memukau dan mencerahkan: “iB adalah islamic banking….dan huruf i kecil mensiratkan bahwa islam harus tampil secara humble…rendah hati..”.
Islam dalam islamic banking, ditampilkan secara lembut, halus dan rendah hati. Ia menyejukkan, bukan menakut-nakuti. Ia mendamaikan, bukan membuat gelisah. Ia halus dan lembut, bukan bengok-bengok (teriak-teriak, bhs Jawa) memekakkan telinga. Ia rendah hati, bukan membusungkan kesombongan. Ia bisa menghargai, bukan memurkai atau memaki-maki. Itulah mengapa i-nya iB pake huruf kecil….
Tulisan ini diposting juga di: iB Blogger Competition.
..
Alkisah di bulan ketiga dua tahun silam, bergulirlah gagasan untuk membuat sebuah logo yang akan menjadi ciri penanda khas bank syariah di Indonesia. Sebuah logo yg akan menjadi identitas pemersatu dari bank-bank syariah yang semakin banyak bermunculan, termasuk juga BPRS yang tumbuh bermekaran. Sehingga tercipta kesatuan citra bank syariah sebagai sebuah industri yang besar, solid dan mapan. Ibaratnya toko di ujung pulau, meski jauh terpencil tapi kalau ada logo “Visa” atau “Master Card”nya…maka toko itu tidak lagi dipandang sbg toko pinggiran…karena terhubung dgn brand global, shg orang jadi yakin untuk bertransaksi. Bank syariah di Indonesia memerlukan logo yang kredibel seperti itu…
Pada bulan kelima di tahun yg sama, proses perumusan logo industri perbankan syariah dimulai. Dan karena logo ini akan menjadi logo dari sebuah industri keuangan yang serius –sangat sangat serius-, maka amat tidak pantas untuk sekedar mencoret-coret sendiri disainnya di atas kertas..seperti mau bikin logo perkumpulan karang taruna atau vokal group sekolahan. Semuanya harus memiliki makna, bahkan untuk setiap tarikan garis, bentuk, warna dan pemilihan huruf ! Logo harus dilahirkan dari rahim perenungan yang mendalam tentang filosofi dasar dan virtues dari sistem perbankan syariah (islamic bank). Setiap pilihan bentuk dan tarikan garisnya adalah perwujudan lahir dari idea-idea bathiniah.
Adalah Irvan A. Noe’man, seorang pakar dan tokoh disain grafis terkemuka negeri ini yang kemudian membantu mengendapkan idea batiniah itu, yang dikandung oleh sistem bank syariah..dan kemudian mewujudkannya ke dalam garis, bentuk dan warna. Sebagai salah satu tokoh pendiri Indonesia Design Professionals Association (ADGI), dan juga putera dari A. Noe’man sang arsitek Masjid Salman ITB, Irvan tak diragukan lagi memiliki kepakaran disain grafis sekaligus kepekaan religius…dua kualitas yang dibutuhkan untuk melahirkan logo sekaliber industri islamic banking di Indonesia ini.
Tanggal 2 Juli 2007, logo iB dicanangkan sebagai logo resmi bagi industri perbankan syariah di Indonesia. Bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Bank Indonesia. Dan untuk keseratus sekian kalinya, pertanyaan dari yang hadir adalah..”kenapa huruf i-nya kecil yaa?..” Apakah cuma untuk pemanis-manis disain dan komposisi?
Lebih dalam dari itu! Penjelasan Irvan A. Noe’man terhadap “misteri” itu sangat memukau dan mencerahkan: “iB adalah islamic banking….dan huruf i kecil mensiratkan bahwa islam harus tampil secara humble…rendah hati..”.
Islam dalam islamic banking, ditampilkan secara lembut, halus dan rendah hati. Ia menyejukkan, bukan menakut-nakuti. Ia mendamaikan, bukan membuat gelisah. Ia halus dan lembut, bukan bengok-bengok (teriak-teriak, bhs Jawa) memekakkan telinga. Ia rendah hati, bukan membusungkan kesombongan. Ia bisa menghargai, bukan memurkai atau memaki-maki. Itulah mengapa i-nya iB pake huruf kecil….
Tulisan ini diposting juga di: iB Blogger Competition.
..
Selasa
Bank Syariah...dipiiliih...diipiliiih.....
Dagangan apa yang sekarang ini paling laku dijual? Ekonomi syariah dan perbankan syariah! Apakah karena momennya memang pas, dimana banyak orang sedang mencari-cari sistem perbankan alternatif yang lebih tahan banting dalam hempasan badai krisis keuangan global? Atau semata karena rasa emosional/sentimen keagamaan dari masyarakat negeri ini, saat ini sedang disentil dan dielus-elus oleh orang-orang yang pingin memperoleh simpati. Entah demi tujuan-tujuan ekonomi, uang…ataupun untuk tujuan kampanye politik, kekuasaan.
Tapi sebenernya apa sih yang mereka jual? Apakah cuma sekedar jualan jargon dan simbol-simbol hanya untuk membeli hati? Sebenernya apa sih kelebihan dari bank syariah? Sehingga ia pantas dijadikan sebuah “isu strategis” yang harus dibicarakan di antara isu-isu strategis lainnya. Jangan-jangan, yang teriak-teriak jualan bank syariah di berbagai forum dan media itu malah ga ngeh tentang…apa sih bagusnya barang yang ia jual?....
Pertama: Dengan sistem bagi hasilnya, bank syariah sejatinya mengangkat kembali keluhuran kultur anak negeri ini. Re-inventing the heritage. Sistem bagi hasil sudah dikenal di nusantara bahkan sejak pra kedatangan Islam. Istilah maro, mertelu, belah pinang, bakongsi, mencerminkan kultur luhur kebersamaan, welas asih dan keadilan. Semakin banyak masyarakat menggunakan bank syariah, maka nilai-nilai luhur bangsa ini semakin dihidupkan kembali. Lihat tulisan saya sebelumnya: “Bank Syariah Bukan Barang Impor”.
Kedua: Bank syariah merekatkan kembali aktivitas pasar keuangan dengan kegiatan ekonomi riil, sehingga mengobati masalah de-coupling economy. Setiap uang yang dikeluarkan oleh bank syariah harus digunakan untuk membiayai sektor riil produktif. Tidak boleh diputar-putar saja di sektor finansial. Dengan demikian, maka membesarnya pasar keuangan selalu merupakan cermin sempurna dari membesarnya kegiatan produksi di sektor riil. Tidak terjadi ekonomi gelembung (bubble economy) yang sewaktu-waktu bisa pecah menggoncang perekonomian.
Ketiga: Harmonisasi antara kedua pasar tersebut (sektor keuangan dan sektor riil) akan mencegah terjadinya ekses likuiditas, karena likuiditas yang mengalir dalam perekonomian adalah sesuai dengan kebutuhan transaksi yang benar-benar riil. Tidak ada penumpukan likuiditas secara permanen yang hanya berputar-putar di instrumen keuangan, sementara sektor riil lebih membutuhkannya.
Keempat: Bank syariah tidak boleh membiayai bisnis spekulatif, misalnya untuk kegiatan spekulasi valas. Dengan membesarnya share bank syariah dalam perekonomian, maka pergerakan harga benar-benar akan merupakan cermin sempurna dari interaksi supply-demand barang yang benar-benar riil. Dalam lanskap ini tidak diperbolehkan pembiayaan bagi aktivitas-aktivitas spekulatif maupun penumpukan (hoarding), sehingga meningkatkan prediktibilitas pergerakan inflasi.
Ahh..seandainya mereka tahu bagusnya dagangan yang sedang mereka jual ini…mereka pasti akan berteriak-teriak lebih lantang lagi. Bukan hanya supaya pingin dapet suara, tetapi karena bank syariah memang bagus punyya!.. ayoo..dipiliih…dipiliiih !!....:)
..
Tapi sebenernya apa sih yang mereka jual? Apakah cuma sekedar jualan jargon dan simbol-simbol hanya untuk membeli hati? Sebenernya apa sih kelebihan dari bank syariah? Sehingga ia pantas dijadikan sebuah “isu strategis” yang harus dibicarakan di antara isu-isu strategis lainnya. Jangan-jangan, yang teriak-teriak jualan bank syariah di berbagai forum dan media itu malah ga ngeh tentang…apa sih bagusnya barang yang ia jual?....
Pertama: Dengan sistem bagi hasilnya, bank syariah sejatinya mengangkat kembali keluhuran kultur anak negeri ini. Re-inventing the heritage. Sistem bagi hasil sudah dikenal di nusantara bahkan sejak pra kedatangan Islam. Istilah maro, mertelu, belah pinang, bakongsi, mencerminkan kultur luhur kebersamaan, welas asih dan keadilan. Semakin banyak masyarakat menggunakan bank syariah, maka nilai-nilai luhur bangsa ini semakin dihidupkan kembali. Lihat tulisan saya sebelumnya: “Bank Syariah Bukan Barang Impor”.
Kedua: Bank syariah merekatkan kembali aktivitas pasar keuangan dengan kegiatan ekonomi riil, sehingga mengobati masalah de-coupling economy. Setiap uang yang dikeluarkan oleh bank syariah harus digunakan untuk membiayai sektor riil produktif. Tidak boleh diputar-putar saja di sektor finansial. Dengan demikian, maka membesarnya pasar keuangan selalu merupakan cermin sempurna dari membesarnya kegiatan produksi di sektor riil. Tidak terjadi ekonomi gelembung (bubble economy) yang sewaktu-waktu bisa pecah menggoncang perekonomian.
Ketiga: Harmonisasi antara kedua pasar tersebut (sektor keuangan dan sektor riil) akan mencegah terjadinya ekses likuiditas, karena likuiditas yang mengalir dalam perekonomian adalah sesuai dengan kebutuhan transaksi yang benar-benar riil. Tidak ada penumpukan likuiditas secara permanen yang hanya berputar-putar di instrumen keuangan, sementara sektor riil lebih membutuhkannya.
Keempat: Bank syariah tidak boleh membiayai bisnis spekulatif, misalnya untuk kegiatan spekulasi valas. Dengan membesarnya share bank syariah dalam perekonomian, maka pergerakan harga benar-benar akan merupakan cermin sempurna dari interaksi supply-demand barang yang benar-benar riil. Dalam lanskap ini tidak diperbolehkan pembiayaan bagi aktivitas-aktivitas spekulatif maupun penumpukan (hoarding), sehingga meningkatkan prediktibilitas pergerakan inflasi.
Ahh..seandainya mereka tahu bagusnya dagangan yang sedang mereka jual ini…mereka pasti akan berteriak-teriak lebih lantang lagi. Bukan hanya supaya pingin dapet suara, tetapi karena bank syariah memang bagus punyya!.. ayoo..dipiliih…dipiliiih !!....:)
..
Sabtu
Ketika Bule Jatuh Cinta
Mengapa banyak negara asing berpenduduk tidak mayoritas muslim semakin menggebu ikut-ikutan mengembangkan bank syariah? Dimulai dari Inggris dan merambat ke Amerika Serikat, Australia, Singapura, Jepang, Rusia, Hongkong, Korea (sedang serius mempelajari bank syariah dan rajin bikin workshop dengan IFSB)...Koq bisa? Apa sih yang menyebabkan mereka jatuh cinta sama ekonomi syariah dan bank syariah??
Hampir pasti bukan karena alasan-alasan keagamaan. Urusan Hongkong dan Singapura, misalnya, bisa jadi cuma soal ngumpulin duit sebanyak2nya. Urusan negara-negara Barat lain, barangkali lebih sophisticated dan "mature": ethical economics!
Ketika bule Eropa dan Amerika taraf ekonominya sudah mapan, maka meningkatlah kesadarannya beyond urusan sembako dan duit. Sekarang mereka mikir soal-soal yang lebih "soft": bagaimana mengurangi efek global warming? bagaimana mengurangi kerusakan alam lingkungan? bagaimana menciptakan kehidupan sosial yang berkeadilan dan sejahtera? (welfare) Bagaimana manusia bisa hidup secara berkualitas? (freedom, education) bagaimana membangun semangat sosial dalam komunitas-komunitas? ...termasuk di dalamnya bagaimana berbisnis secara lebih etis? bisnis di berbagai sektor: etis dalam berbanking..etis dalam berinvestasi.
Bule sedang jatuh cinta sama Ethical banking dan ethical investment. Mereka rajin berkampanye utk hanya menggunakan bank-bank yang mendukung investasi yang etis yang mendukung kelestarian alam lingkungan. Bank yang ngasih kredit ke bisnis penebangan hutan..nggak laku. Bank yang ketauan ngasih kredit ke pabrik2 peghasil limbah..nggak laku. Bank yang ngasih kredit ke bisnis eksploitasi alam dan merusak alam..nggak laku.
Bule sedang jatuh cinta sama bank yang peduli dengan small enterpreneurs alias pengusaha kecil alias UMKM. Grameen bank-nya Muhammad Yunus di Bangladesh dipuja-puja dan dikasih hadiah nobel. Bule terpesona dan jatuh cinta sama yang kayak beginian sekarang..
Bule sedang jatuh cinta sama bank syariah. Betapa tidak? Coba lihat apa yang ditawarkan oleh sistem bank syariah:
"Kebersamaan dan kemitraan adalah nilai-nilai yang dikedepankan oleh sistem perbankan syariah, yang menjadi prinsip dan semangat dari setiap produk bank syariah yang ditawarkan kepada masyarakat. Sistem perbankan syariah dalam menjalankan aktivitas bisnisnya tetap menjaga visi kemanusiaan yang memandang “yang lain” (nasabah, mitra kerja, manusia lain dan lingkungan) sebagai yang setara, yang harus diperlakukan dengan rasa cinta kasih, berkeadilan dan empati.
Manusia lain adalah juga wajah-wajah yang memiliki mimpi-mimpi yang sama. Kebutuhan dan ketidakberdayaan seseorang tidak boleh dipandang sebagai kesempatan untuk menguasai, tetapi harus dilihat dengan rasa compassion, empati dan kebaikan hati untuk menghilangkan ketidakberdayaan itu. Prinsip kemitraan yang memanusiakan manusia lain, dan kebersamaan dalam kesetaraan inilah yang kemudian menjadikan sistem perbankan syariah lebih dari sekedar bank."
Mana ada di mainstream economics kita temukan "compassions"..."empati"..."kebaikan hati"...."kemitraan yang setara"..."keadilan"...."memandang alam lingkungan dengan rasa cinta kasih"....?? Bank syariah ga akan ngasih kredit ke bisnis yang membabati hutan krn itu mengancam kelestarian alam. Bank syariah ga boleh ngasih kredit ke bisnis yang menghasilkan pencemaran lingkungan. Bahkan bank syariah ga boleh ngasih kredit ke bisnis rokok atau minuman keras. Hmm…ga aneh kalau bule jadi jatuh cinta….pada waktunya mereka akan kasih hadiah Nobel juga ke bank syariah hahahaha… :p
Ingin ikutan bisa jatuh cinta? Tutup telinga anda dari hiruk-pikuk jargon-jargon, dan lihatlah iB (ai-Bi) bank syariah secara lebih mendalam. Di sana akan anda temukan ethical banking...ethical investment...ethical bankers....
Ingin membuat masyarakat jatuh cinta kepada iB (ai-Bi)? Stop preaching..and start SELLING your products and virtues !!..
Hampir pasti bukan karena alasan-alasan keagamaan. Urusan Hongkong dan Singapura, misalnya, bisa jadi cuma soal ngumpulin duit sebanyak2nya. Urusan negara-negara Barat lain, barangkali lebih sophisticated dan "mature": ethical economics!
Ketika bule Eropa dan Amerika taraf ekonominya sudah mapan, maka meningkatlah kesadarannya beyond urusan sembako dan duit. Sekarang mereka mikir soal-soal yang lebih "soft": bagaimana mengurangi efek global warming? bagaimana mengurangi kerusakan alam lingkungan? bagaimana menciptakan kehidupan sosial yang berkeadilan dan sejahtera? (welfare) Bagaimana manusia bisa hidup secara berkualitas? (freedom, education) bagaimana membangun semangat sosial dalam komunitas-komunitas? ...termasuk di dalamnya bagaimana berbisnis secara lebih etis? bisnis di berbagai sektor: etis dalam berbanking..etis dalam berinvestasi.
Bule sedang jatuh cinta sama Ethical banking dan ethical investment. Mereka rajin berkampanye utk hanya menggunakan bank-bank yang mendukung investasi yang etis yang mendukung kelestarian alam lingkungan. Bank yang ngasih kredit ke bisnis penebangan hutan..nggak laku. Bank yang ketauan ngasih kredit ke pabrik2 peghasil limbah..nggak laku. Bank yang ngasih kredit ke bisnis eksploitasi alam dan merusak alam..nggak laku.
Bule sedang jatuh cinta sama bank yang peduli dengan small enterpreneurs alias pengusaha kecil alias UMKM. Grameen bank-nya Muhammad Yunus di Bangladesh dipuja-puja dan dikasih hadiah nobel. Bule terpesona dan jatuh cinta sama yang kayak beginian sekarang..
Bule sedang jatuh cinta sama bank syariah. Betapa tidak? Coba lihat apa yang ditawarkan oleh sistem bank syariah:
"Kebersamaan dan kemitraan adalah nilai-nilai yang dikedepankan oleh sistem perbankan syariah, yang menjadi prinsip dan semangat dari setiap produk bank syariah yang ditawarkan kepada masyarakat. Sistem perbankan syariah dalam menjalankan aktivitas bisnisnya tetap menjaga visi kemanusiaan yang memandang “yang lain” (nasabah, mitra kerja, manusia lain dan lingkungan) sebagai yang setara, yang harus diperlakukan dengan rasa cinta kasih, berkeadilan dan empati.
Manusia lain adalah juga wajah-wajah yang memiliki mimpi-mimpi yang sama. Kebutuhan dan ketidakberdayaan seseorang tidak boleh dipandang sebagai kesempatan untuk menguasai, tetapi harus dilihat dengan rasa compassion, empati dan kebaikan hati untuk menghilangkan ketidakberdayaan itu. Prinsip kemitraan yang memanusiakan manusia lain, dan kebersamaan dalam kesetaraan inilah yang kemudian menjadikan sistem perbankan syariah lebih dari sekedar bank."
Mana ada di mainstream economics kita temukan "compassions"..."empati"..."kebaikan hati"...."kemitraan yang setara"..."keadilan"...."memandang alam lingkungan dengan rasa cinta kasih"....?? Bank syariah ga akan ngasih kredit ke bisnis yang membabati hutan krn itu mengancam kelestarian alam. Bank syariah ga boleh ngasih kredit ke bisnis yang menghasilkan pencemaran lingkungan. Bahkan bank syariah ga boleh ngasih kredit ke bisnis rokok atau minuman keras. Hmm…ga aneh kalau bule jadi jatuh cinta….pada waktunya mereka akan kasih hadiah Nobel juga ke bank syariah hahahaha… :p
Ingin ikutan bisa jatuh cinta? Tutup telinga anda dari hiruk-pikuk jargon-jargon, dan lihatlah iB (ai-Bi) bank syariah secara lebih mendalam. Di sana akan anda temukan ethical banking...ethical investment...ethical bankers....
Ingin membuat masyarakat jatuh cinta kepada iB (ai-Bi)? Stop preaching..and start SELLING your products and virtues !!..
Langganan:
Postingan (Atom)
